[Fiction] Mars vs Venus
Unknown
5:12 AM
0 Comments
#1 Mars vs Venus
"Venus
ada?" Mars menyembul dari balik pintu kelas Venus. Neymars Feno Adrian
adalah Presiden Mahasiswa kampus Universitas Garuda.
"Ve,
dicari Presma." Dengan isyarat mata, Mars meminta Venus menemuinya diluar
kelas.
"Ada
apa?"
"Bikinin
desain poster buat meet up Tokopedia ya. Hari ini serahin ke gue
aja."
"Hah?
Hari ini?"
"Iya.
Ke markas aja nanti." Dengan pasrah Venus mengangguk. 'Tugas kearsipan
sama animasi aja belum kelar.' Batin Venus.
"Tadi
ngapain Mars nyariin lo?" Tanya Suci. Ia memperhatikan Venus yang tampak
cemberut.
"Biasa.
Desain poster buat meet up nanti."
"Oh,
deadline kapan?"
"Sore
ini. Tugas arsip sama animasi aja belum kelar udah ditimpah lagi. Lo aja lah yg
handle "
"Gak
lah, yg dikasih amanah kan lo."
.
.
.
Alifa dan Venus masuk bersamaan. Pandangan Mars sesekali terpaku kearah Alifa. Alifa adalah gadis yang disuka Mars sedang Mars sendiri adalah orang yang disuka Venus. Tapi sayang sekali Alifa mencintai pria lain.
.
.
.
Alifa dan Venus masuk bersamaan. Pandangan Mars sesekali terpaku kearah Alifa. Alifa adalah gadis yang disuka Mars sedang Mars sendiri adalah orang yang disuka Venus. Tapi sayang sekali Alifa mencintai pria lain.
"Nih,
coba di cek dulu." Ucap Venus sambil memberi flashdisk miliknya.
Mars menerima dengan tenang.
"Ini
sengaja di gradasi? Coba pake warna biru sama ungu. Gue mau warnanya jadi kayak
langit malam."
"Tadi
sempet ada plan kesana tapi pas di coba warna textnya jadi agak
pucat."
"Yaudah
segini aja udah ok kok."
"Yaudah.
Tugas gue selesai kan? Gue mau pulang dulu." Venus beranjak bangun namun
ditahan Mars.
"Eh
eh nanti dulu, kalo ada revisi gimana?"
"Ya
lo benerin lagi sendiri. Lo juga anak SMK multimedia kan?"
"Dih
udah sini aja dulu." Mars menarik Venus untuk duduk kembali.
Ruangan
Senat cukup ramai siang itu. Ada yang bermain scrabble, catur, hingga
acara curhat umum pun ada. Disisi lain, Venus sedang asik tiduran disusul Mars
yang ikut tidur disampingnya. Venus menghela nafas pasrah.
'1,2,3..' batin Venus terputus ketika sebuah
suara yang benar-benar dia hafal berbisik.
"Sentuh
aku~"
"Ihh
Mars apa banget sih" sungut Venus dengan wajah merahnya
"Hehehe..
canda doang, Ve. Capek nih, pijit dong."
"Kan
bisa bilang pijit aja gak usah pake ngomong sentuh-sentuh segala. Erotis banget
sih."
"Kan
biar dramatis gitu, Ve."
"Kode
itu Ve minta di kasih yang plus-plus" sambung Rivan sambil
mengerling.
"Gak
usah ikut-ikutan deh. Gue colok mata lo nanti." Omel Venus. Semua tertawa
mendengarnya.
"Mars
mah cowok PHP sih. Gak ada alifa, si Venus di embat. Pilih satu aja Mars
sisanya buat gue." sindir Dean. Venus mendelik kesal.
"Kan
segala sesuatu harus ada cadangan buat nge-back up. Iya gak Ve?"
"Lo
doang Mars yang kayak gitu" balas Venus datar.
"Cowok
ganteng mah bebas." Sahut Mars.
"Muka
kayak pentul korek bekas aja bangga."
"Kamu
berani sama aku?" Mars mendekatkan wajahnya dengan senyum miring tercetak
jelas diwajahnya. Venus mendengus.
"Sama-sama
makan nasi ngapain takut?"
Varel
tersenyum dan segera berbalik. Dan inilah Venus. Sekalipun mulutnya berkata
tidak, tetap saja ia akan melakukannya seperti sekarang, Venus segera memijit
pundak Mars diikuti obrolan singkat dengan teman-temannya.
Mars
tahu bahwa Venus menyukainya karena memang gadis itu yang mengatakan langsung
padanya. Tapi syukurlah sejak saat itu mereka tak berubah. Dan begitulah
interaksi Venus dan Mars. Mereka saling bercanda, hingga terkadang Venus emosi
dibuatnya.
Dua
orang dengan tipe nama yang sama, memiliki kecintaan yang sama tentang luar
angkasa. Venus dan Mars.
Beberapa
orang sudah ada yang pulang, sedangkan Venus masih terjebak bersama pria
disampingnya. Menyebalkan sekali pikirnya.
"Gue
pulang ya, Mars."
"Hati-hati
dijalan ya." gumam Mars. Venus mendelik kesal. 'Kenapa gak dari tadi aja
sih?' batinnya.
[OSPEK
H-1]
Mars,
Venus, Lita, Tama, Vivi, dan Amri tengah berada di ruang kelas yang tepat
berada di samping sekretariat Senat. Mereka sedang disibukkan oleh beberapa snack
dari mahasiswa-mahasiswa baru.
"Ve,
sekalian di data yang perlengkapan sembakonya udah lengkap sama yang masih
kurang. Trus nanti langsung kelompokin sesuai kelompok mereka ya." Ucap
Agi
"Oke.
Guys, bantu gue nge-data ini ya." seru Venus.
.
.
.
.
.
Jam
menunjukkan pukul 11 malam. Mereka baru saja selesai menyiapkan segala
perlengkapan untuk Ospek besok.
"Kalian
nginep dikampus kan?" Tanya Vivi. Mereka baru selesai membungkus sembako
untuk acara bakti sosial besok. Ini adalah kegiatan rutin Universitas Garuda
setiap Ospek.
"Iya,
anak cewek di rumah lo kan?" tanya Dean.
"Iya."
"Besok
pada bisa bangun pagi kan?" tanya Venus. Ia bangkit dari tidurnya. Mars
menahan tangannya untuk bangun. Ya, mereka memang baru saja berbaring
berdampingan.
"Bangunin
atuh." goda Mars.
"Besok
kita kekampus jam 4. Kalian mau di bawain sarapan apa?" Venus mengabaikan
candaan Mars dan kembali bertanya.
"Nasi
uduk dong sama kopi ya, Ve." Sahut Tama. Venus mengangguk dan memaksa
bangkit melepaskan pegangan Mars. Venus memelototi Mars yang hanya tersenyum
ringan. 'Ini orang senyum-senyum kayak gak ada rahang aja. Gak tau apa
jantung dag dig dug!'
"Minta
kunci duplikatnya biar kita gak harus teriak-teriak depan kampus."
.
.
.
"Anterin
bisa kali. Masa tega ngelepas anak cewek pulang tengah malem." mereka baru
selesai makan dan tengah menunggu makanan turun ke perut mereka.
"Noh
Tama aja sama si Mars biar gue yang jaga sini." Jawab Amri. Ia
menelungkupkan kepalanya di meja. Vivi sedikit mengelus rambutnya.
"Gak
usah pacaran depan kita kali. Malem woy malem." canda Venus. Yang lain
tertawa kecil.
"Iri
Ve iri." sindir Mars. Venus meliriknya tajam dan mengepalkan tangannya di
depan Mars.
"Udah
sih semuanya aja ikut itung-itung jalan malem." Usul Lita.
"Yaudah
ayo."
.
.
.
Tiga laki-laki itu akhirnya memutuskan untuk mengantar teman-temannya pulang. Tama dengan Lita, Amri dengan Vivi, dan Mars dengan Venus. Malam ini Venus CS akan menginap dirumah Lita. Kebetulan rumah Lita yang lebih dekat dengan kampus.
.
.
.
Tiga laki-laki itu akhirnya memutuskan untuk mengantar teman-temannya pulang. Tama dengan Lita, Amri dengan Vivi, dan Mars dengan Venus. Malam ini Venus CS akan menginap dirumah Lita. Kebetulan rumah Lita yang lebih dekat dengan kampus.
"Dingin
gak?" Tanya Mars yang berada di barisan belakang. Jalanan saat lenggang
malam ini membuat perjalanan mereka lancar tanpa macet.
"Lumayan."
"Lagian
kenapa jaketnya ditinggal di markas sih?"
"Lupa,
Mars. Tadi kan buru-buru." Dengan sigap Mars menarik tangan Venus dan
memasukkannya ke saku jaketnya. Ia membuat gadis itu memeluknya cukup erat.
Percayalah, dia juga sebenarnya kedinginan.
Venus
hanya diam. Ia tak tahu harus bersikap atau berbicara apa. Ini pertama kalinya
dan oh dia sangat berterima kasih pada cuaca dan sang malam untuk hari ini. 'Aku
gak keberatan kalo setiap hari kayak gini'
Dengan
sedikit ragu, Venus menyandarkan kepalanya di bahu Mars yang kini memperlambat
kecepatan motornya. Sesekali laki-laki itu mengusap punggung tangan Venus
membuat sedikit getaran aneh di dada gadis itu.
"Ngantuk."
gumamnya.
"Tidur
aja dulu. Nanti dibangunin." Balas laki-laki dihadapannya.
"Hm."
Tak
ada yang tahu seperti apa perasaan mereka terhadap satu sama lain. Yang jelas
malam ini mereka hanya mencoba menikmati suasana yang tercipta.
.
.
.
.
"Thanks
ya, abis ini langsung tidur jangan begadang mulu biar besok gak susah dibangunin."
titah Lita. Ketiga cowok itu hanya membalasnya dengan cengiran yang syarat akan
protes.
"Makasih
ya, Mars." ucap Venus pelan.
"Hm,
langsung istirahat ya." Jawab Mars. Gadis cantik itu hanya mengangguk
kecil dan ikut masuk menyusul kedua temannya.
"Suit..
suit.. bakal dapet pajak jadian kayaknya nih." ledek Tama.
"Apa
sih lo." Kilah Mars sambil menyalakan motornya dan kembali ke kampus.
[Kamar
Lita]
"Hahhh..
capek banget jam segini baru selesai." Seru Venus. Ia merenggangkan
badannya. Ia dapat mendengar bunyi 'kretek' dari pinggangnya. Ouch!
"Sstt..
malem woy malem" sungut Vivi. "Jadi, kenapa lo tadi yang paling lama
sampai dirumah Lita, huh?" tambah Vivi. Shit! Vivi benar-benar ya.
Yah, Venus tak bisa menyalahkan Vivi karena ia tak tahu apa-apa.
"Gak
ada apa-apa. Dia cuma bikin gue kesel sepanjang jalan." cueknya. Ia
melirik Lita yang sibuk sendiri.
"Ingat,
di kebanyakan FTV, orang yang sering saling ejek malah berakhir saling jatuh
cinta lho, Ve. Yah, dia emang suka sama Ifa tapi, nobody know what's gonna
happend, kan?"
'Please
Vi, jangan dilanjutin' batin Venus berteriak.
"Shut
up, Vi. Lo sendiri tau kalau kehidupan gue itu bukan FTV."
"Kalian
kapan mau tidur? Gue mau bersihin muka dulu. Ada yang mau ikut?" Tawar
Lita. Ia bergegas mengambil sabun mukanya diikuti kedua temannya.
"Of
course" jawab keduanya.
'Mati
mati mati. Mati aku.'
batin Venus.
Mereka
telah selesai membereskan pakaian dan membersihkan diri. Keduanya berdoa untuk
kelancaran acara besok dan pergi tidur.
.
.
.
[Hari H]
.
.
.
[Hari H]
Jam
4 pagi, Venus, Lita, dan Vivi sudah tiba dikampus dengan beberapa makanan dan
minuman pesanan Tama cs semalam.
"Tuh
kan bener masih pada tidur." Keluh Lita.
"Tama,
bangun dong nih makan dulu nasi uduknya."
Hal
yang sama dilakukan oleh Vivi yang sedang membangunkan Amri. Kenapa para
laki-laki kalau sudah tidur susah sekali dibangunkan?
"Mars
kemana? Gue cari dia dulu ya." gadis mungil -Venus- meninggalkan kedua
pasangan itu dan berjalan ke ruang sembako.
"Ruangan
sembako kok gak dikunci?" Gumam Venus. Inner-nya mulai berdebat
antara masuk atau tidak.
"Masuk
aja deh."
Dari
ambang pintu, Venus bisa melihat Mars yang sedang tidur meringkuk. "Mars,
kenapa lo tidur disini?"
"......"
Venus menghela nafas pelan.
"Mars,
bangun.. makan dulu nih." Venus menepuk-nepuk kepala Mars.
"Mars..
kebo banget sih lo." Kali ini tepukkannya turun ke pipi. Ia bahkan sudah
berani mencubit-cubit gemas pipi Mars.
Mars
hanya bergerak acuh dan tidur dipangkuan Venus sambil bergumam asal.
"Ihh
kok malah pindah spot sih? Bangun woy bangun"
"Hm.."
Mars masih bergerak mencari posisi nyamannya.
"Jangan
hm aja Mars udah pagi nih." Venus menghela nafas berat. Dia harus
menggunakan jurus terbaiknya. Laki-laki ini memang miri kerbau.
Ia
mendekatkan wajahnya ke telinga Mars dan mulai berbisik.
"Mars.."
bisiknya dengan suara pelan. Tangan nya masih setia menepuk kepala laki-laki
manja itu.
Mars
menengok dan menatap mata Venus. Untuk sesaat keduanya hanya bisa membeku.
Tangan Mars terulur untuk mengelus tengkuk Venus.
"Pagi-pagi
gini mau bangunin macan tidur hm?" Bisik Mars. "Lo emang mau
diserang, Venus?"
"Gak
kok. Gue cuma nyuruh lo bangun. Baangguuunnnn" teriak Venus sambil
mencubit pipi Mars.
"Berisik,
Ve. Biasa aja kali banguninnya." Omel Mars. Ia bangkit dari pangkuan
Venus.
"Bodo
amat lah. Tuh makan dulu." Venus yang ngambek pun beranjak pergi dan
ditahan oleh Mars.
"Mau
kemana?"
"Ke
ruang sebelah lah"
"Disini
aja makannya. Temenin gue." Pinta Mars. Venus melepas genggamannya.
"Alay"
akhirnya mereka pun makan berdua.
Jam
5 semua panitia sudah tiba dikampus. Mereka mulai mengecek kembali kelengkapan
untuk acara 2 hari ini.
"Guys,
nih ambil roti nya. Satu aja ngambilnya. Ini buat sarapan kita." Sari dan
Dito datang dengan satu dus berisi roti dan air minum kemasan.
"Gak
dimakan? Kita bakal dapet makan jam 1 siang nanti lho, Ve." Tanya
Rifky.
"Gak
mood gue mau makan beginian. Tadi juga udah makan kok. Buat lo
aja."
"Serius?
Yaudah thanks cantik." Venus memutar bola mata malas ketika Rifky
mengedipkan sebelah matanya sambil berterima kasih.
.
.
.
Satu per satu peserta Ospek mulai berdatangan. Petugas keamanan langsung mengarahkan mereka untuk tertib memasuki aula kampus.
.
.
.
Satu per satu peserta Ospek mulai berdatangan. Petugas keamanan langsung mengarahkan mereka untuk tertib memasuki aula kampus.
Di
belakang panggung terlihat Venus dan Rifky yang sedang mengobrol santai. Mars
dan Vivi pun bergabung.
"Persiapan
udah semua?" Tanya Venus.
"Udah
kok." Jawab Vivi. Mereka berkumpul di gedung auditorium.
Para
peserta sudah banyak yang hadir dan menduduki kursi masing-masing. Rektor,
eksekutif dosen, dan dewan Senat pun sudah hadir.
"Peserta
Ospek tahun ini banyak yang bening-bening coy." Seru Tanto
"Apa
semua cowok selalu ngebahas yang bening-bening ya setiap ada anak baru?"
Tanya Alifa yang baru saja bergabung.
"Apa
semua cewek selalu ngebahas cowok-cowok ganteng ya setiap ada mahasiswa
baru?" Balas Rifky
"Ini
gak penting banget sumpah. Mending balik ke posisi masing-masing" sungut
Vivi.
"Mars,
kerah baju lo benerin dulu. Dasi juga berantakan banget." Tanpa sadar Mars
mendekat dan Venus spontan membenarkan letak dasi dan kerah Varel.
Sungguh
pemandangan manis yang cukup langka mengingat mereka tak pernah melihat
kedekatan mereka berdua secara intim ditambah riwayat Mars yang menyukai Alifa.
Mereka hanya tahu bahwa kedua pasangan dengan nama yang sama seperti planet itu
adalah teman yang saling ejek.
"Calon
istri kayaknya nih." Celetuk Imam
.
.
.
"Saya Mars, Neymars Feno Adrian selaku Presiden Mahasiswa mengucapkan selamat datang dan selamat bergabung di keluarga besar Universitas Garuda." Suara riuh tepuk tangan mengiringi kepergian Varel turun dari podium menuju backstage. Beberapa anggota Senat menyambut.
.
.
.
"Saya Mars, Neymars Feno Adrian selaku Presiden Mahasiswa mengucapkan selamat datang dan selamat bergabung di keluarga besar Universitas Garuda." Suara riuh tepuk tangan mengiringi kepergian Varel turun dari podium menuju backstage. Beberapa anggota Senat menyambut.
"Beneran
namanya Mars?"
"Ganteng
ya. Namanya juga unik."
"Namanya
kerasa asing di lidah."
Yah,
kira-kira begitulah kesan mahasiswa baru mengenai presiden mahasiswa mereka.
Nama yang unik ditambah paras yang menawan.
"As
always guys, pencitraan." Ledek Fahmi.
"Gak
ada yang tau aslinya Presma gimana kan?"
"Bujang
haus kasih sayang"
"Pedofil
pula. Sukanya sama bocah kayak Venus."
Venus
yang merasa disebut langsung melotot "Kenapa nama gue dibawa-bawa?"
Fahmi
tersenyum "Lo yang paling bocah disini."
"Sialan
lo padaan" balas Mars dengan aksen jawanya.
"Udah
yuk sebentar lagi kita pengenalan Senat." Lerai Alifa.
.
.
.
.
"Dan
yang terakhir Kholil dari menteri agama. Ini adalah nama-nama anggota Senat
yang mengisi kursi di kabinet Maju untuk Perubahan. Sekian dari saya. Terima
kasih."
Anggota
Senat langsung menuju backstage dan bergegas menuju posisinya
masih-masing untuk melanjutkan acara lain.
Acara
masih berlanjut. Berbagai kegiatan sudah dilaksanakan di hari pertama.
"Kak
Venus aku sudah selesai." seorang gadis berperawakan tinggi agak berisi
menghampiri Venus.
"Tumpuk
disana dan langsung istirahat." Ucap Venus singkat. Wajah sang junior
sedikit merengut mendapat respon singkat.
Mars
memperhatikan dari jauh sambil tersenyum maklum dan berjalan menghampiri
rekannya yang terkenal cuek itu.
"Yang
ramah dong. Jutek banget."
"Gue
bukan lo yang lagi tebar pesona." Jawab Venus pedas.
Mars
menepuk kepala Venus dan berlalu pergi. Venus melirik Mars yang semakin menjauh
'Dasar alay' batin nya.
"Semuanya
kalau sudah selesai langsung istirahat. Luruskan kaki kalian." Ucap Lena
tegas.
Venus
itu cantik, berkulit putih, berpipi chubby dan terkesan imut karena
wajahnya yang baby face tapi sifatnya yang cuek membuat beberapa enggan
mendekat meskipun beberapa berpendapat itu terkesan 'menantang' dan tak jarang
banyak yang tertantang untuk mencoba menggodanya.
"Kita
nanti pensi dimana kak?"
"Di
gedung teater. Persiapan kalian gimana?"
"Siap
kak. Yang penting kakak harus nonton."
"Pasti.
Saya kan mentor kalian. Jangan mikirin menang atau kalah, yang penting lakukan
semaksimal mungkin."
"Ayayay
kapten" Venus tersenyum tipis yang menambah kesan manis dan cantik
diwajahnya. Semua ikut tersenyum melihatnya. Bahkan dari kelompok lain pun
berpendapat sama.
"Kakak
cantik kalau senyum begini" ucap salah satu cewek dikelompoknya.
"Kamu
juga. Lanjutkan istirahat kalian ya." Venus beranjak pergi untuk mengurus
yang lainnya.
Venus
memasuki ruang Senat dengan wajah lelah. Vivi menghampirinya dan memberikan
sebotol air minum.
"Lo
udah berusaha semaksimal mungkin, Ve." Hiburnya
"Emang
gue jutek ya?" Tanyanya yang mendadak ingat kata-kata Mars dan sang adik
kelas.
"Pertama
kali gue kenal sama lo emang kayak gitu kok" ucap Widya.
"Wajah
lo yang jarang senyum yang bikin first impression mereka kayak gitu ke
lo. Dari awal wajah lo begini nih. Flat." Jawab Cintya sambil
menirukan wajah Venus yang sedang serius.
"Perubahan
wajah dan mood lo juga nanggung sih. Kadang biasa aja, nanti 5 menit
kemudian ramah, trus 5 menit kemudian ganti mood lagi." Balas
Farah.
"Kenapa
pada nyerbu gue sih?!" Sungut Lena.
"Ada
yang bilang lo jutek ya?" Tanya Putri
Seketika
wajah Mars yang berkata ia jutek tadi terlintas di fikirannya "Banyak.
Hahh.. gue mau istirahat sebentar ya. Lagi pada istirahat juga anak-anak."
Venus merebahkan tubuhnya sambil memandang langit-langit ruangan.
30
menit berlalu. Venus baru saja turun untuk kembali mengontrol acara. Tak lama
rombongan Vina datang sambil membawa dus makanan.
"Konsumsi
dataaang.." serunya.
"Akhirnya
setelah sekian lama." Desah Widya.
"Yang
disini makan dulu nanti biar langsung rolling sama yang lain."
"Vivi,
Widya, sama yang lain nih ambil satu. Kalo bisa cepet ya soalnya biar yang lain
bisa gantian." Vina memberi dus makanan beserta air mineral.
.
.
.
"Udah makan belum?" Tanya Wawan yang melihat Venus.
.
.
.
"Udah makan belum?" Tanya Wawan yang melihat Venus.
"Belum.
Duluan aja kalo mau makan"
"Lo
aja duluan biar gue yang jaga sini. Masih pada seminar kan?"
"Mending
lo urus gedung teater sana daripada debat sama gue. 30 menit lagi kita
pensi."
"Dasar
batu. Yaudah gue kesana. Nanti susul ya." Wawan meninggalkan Venus setelah
ia mengangguk tanda mengerti.
"Ve,
gak makan? Box makan siang udah dateng tuh." Rifky menghampiri Venus yang
sedang duduk.
"Duluan
aja, tanggung."
"Yakin?
Magh lo gak kambuh?"
"I'm
fine, okay?"
"Dasar
batu. Setelah ini langsung ke markas ya."
Venus
mengangguk sambil menatap kepergian Rifky. 'Ada apa dengan orang-orang hari
ini?'
Selang
10 menit, Venus melihat Mars berjalan mendekatinya. 'Sekarang apa lagi ini?'
"Udah
makan?" Gotcha!
"Ada
apa sama kalian hari ini? Lo orang ketiga yang nanya pertanyaan yang sama. Lo
duluan aja." Jawab Venus.
Mars
tersenyum "Dan jawaban lo sama semua?"
"Uh'huh.."
"Tama!
Kesini sebentar"
Sosok
Tama berjalan mendekat "Kenapa?"
"Tolong
handle tugas Ve dulu. Dan lo Ve ikut gue ke ruang Senat. Cuma lo yang
belum makan."
"Kalian
berdua yang belum makan. Venus, makan siang dulu. Nanti lanjut lagi. Sekalian
Presma lo juga belum makan." Titah Tama. Venus mendengus pelan.
"Nyuruh
orang makan, lo sendiri belum makan."
"Laki-laki
selalu punya tenaga lebih besar dari perempuan." Setelahnya mereka kembali
ke ruang Senat.
.
.
Mars dan Venus berjalan memasuki gedung teater. Beberapa mahasiswa tampak memperhatikan. Venus berjalan kearah lain dan mendekat kearah kelompoknya.
Venus merupakan salah satu mentor dan sudah kewajibannya untuk mengontrol bawahannya. Kelompok dibuat untuk pensi hari pertama.
.
Mars dan Venus berjalan memasuki gedung teater. Beberapa mahasiswa tampak memperhatikan. Venus berjalan kearah lain dan mendekat kearah kelompoknya.
Venus merupakan salah satu mentor dan sudah kewajibannya untuk mengontrol bawahannya. Kelompok dibuat untuk pensi hari pertama.
"Udah
makan semua kan?" Tanya Venus.
"Udah
kak. Kakak sendiri?" Mahasiswi ber-nametag Sisi menjawab sekaligus
bertanya kembali.
"Barusan
selesai."
"Habis
makan sama Presiden ya kak?" Goda Dandi yang merupakan teman SMP nya.
"Ciyee.."
ledek satu kelompok
"Ngaco
kalian. Persiapan gimana? Jangan demam panggung ya."
"Siap!!"
Seru semuanya. Venus tersenyum tipis. "Saya harus kembali ke backstage.
Nanti mendekati giliran kalian, saya kesini lagi."
Acara
berlanjut dan selesai jam 5 sore. Anggota Senat baru saja selesai membersihkan
sampah yang berserakan. Satu per satu memasuki ruang Senat.
Mars
merebahkan tubuhnya sambil menutup mata. Sesekali indera pendengarannya
memperhatikan obrolan Alifa dan yang lain. Ia sedikit tersenyum mendengar
suaranya.
Tak
lama Venus masuk dan segera berbaring disamping Mars. Tak ada percakapan
diantara mereka hingga 30 menit kedepan. Lebih tepatnya keduanya terlalu lelah
hanya untuk mengeluarkan suara.
"Woy
Mars, itu sembako belum di paketin lho. Mau kapan?" Tanya Dion.
"Nanti
malam. Istirahat dulu sekalian delivery makanan sana."
"Uangnya
ambil di keuangan ya. Bendahara gak megang" suruh Widya selaku Bendahara.
"Lagian
kenapa gak nerima tawaran cathering dari kampus aja sih? Biar konsumsi
panitia mereka yang siapin" tanya Imam.
"Enakan
begini. Makanan kita yang pilih yang penting gak lewatin budget"
sahut Vivi.
"Biar
gue yang pesan sekalian mau keluar sebentar." Tama menawarkan diri.
Venus
membuka mata "Lo mau keluar kan? Gue nitip susu beruang."
"Si
Ve susu mulu." Seru Ayu. Tama membenarkan dengan nada setengah meledek
"Tolong"
ucap Venus lirih. Mars yang mendengarnya sedikit melirik kearahnya
"Gampang,
nanti gue beliin. Woy Lit, ikut yuk."
"Ayo,
ada lagi yang mau nitip?" Semua menggeleng pelan. Kedua pasangan itupun
pergi.
.
.
"Itu obat masuk angin buat siapa?" Tanya Lita. Mereka sedang ada di meja kasir.
.
.
"Itu obat masuk angin buat siapa?" Tanya Lita. Mereka sedang ada di meja kasir.
"Buat
si bocah."
"Tau
dari mana kalo dia sakit?"
"Buat
jaga-jaga aja."
Lita
memandang Tama yang sedang berjalan kearah kasir. Ia segera menyusul
kekasihnya.
Tama
dan Lita sampai di ruang Senat. Yang lain sedang mengobrol dan ada juga yang
bermain game. Ia bisa melihat posisi Venus dan Mars yang tidak berubah hanya
saja Venus kini sedang memperhatikan game yang sedang dimainkan laki-laki
disampingnya. Biasalah, Class of Clans.
"Heh
bocah. Nih pesanan lo." Venus menerima botol susu beruangnya beserta obat
masuk angin. Keningnya mengernyit.
"Gue
gak merasa mesan obat masuk angin deh." Tanya Venus.
"Pegang
aja buat jaga-jaga." Venus melirik Lita yang terlihat acuh dan sibuk
dengan kegiatannya.
'Semoga
gak jadi bumerang buat hubungan gue sama Lita' batin Venus.
Tama
dan Venus memang dekat. Itupun karena Tama menganggapnya sebagai adik
perempuannya. Tapi terkadang sifat Lita yang memang cemburuan sering menjadi
tekanan tersendiri untuk Venus. Ia takut Lita mengira yang tidak-tidak tentang
kedekatan mereka.
Venus
masih memperhatikan Mars yang asyik bermain game. Sesekali ia menyoraki
laki-laki berparas tampan itu dengan pelan.
"Kenapa?
Malah nyorakin." Mars bergumam bertanya kepada Venus.
"......."
Merasa
diabaikan, Mars mem-pause game tersebut dan memandang tepat di
bola mata Venus
Mars
tersenyum menggoda. Dan Venus menantangnya dengan mendekatkan wajahnya
perlahan, dan..
Tukk
Ia
menjedotkan kepala mereka pelan dan segera membuang muka. Matanya terpejam
dengan tenang.
"Dasar"
Mars mengelus singkat rambut Venus dan kembali bermain game.
Tanpa
mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat interaksi rahasia mereka dengan
pandangan yang sedikit.. entahlah!
Makanan
datang 20 menit setelahnya. Para anggota Senat yang kelaparan langsung menyerbu
makanan yang ada.
"Widih..
menunya ayam semua." Seru Dean.
"Itu
puding vanila buat gue."
"Oi
box makanan gue kenapa disana? Oper kesini"
"Sambel
gue mana? Rifky! Itu punya gue"
"Itu
es teh gue coba tolong oper kesini"
"Sedotan
gue kemana dah?"
"Tanto!
Itu dessert gue jangan diambil"
"Coba
geser dong duduknya"
"Berisik
deh, gue mau mojok aja lah"
"Jangan
ambil porsi gue woy!"
"Itu
susu punya gue"
Kira-kira
begitulah suasana rusuh malam itu diruang Senat sebelum semuanya pulang. Mereka
harus istirahat karena besok adalah hari yang melelahkan.
#AuthorNote
Hai,
salam kenal semua.. cerita ini sebenarnya udah sempat publish dengan nama cast
yang berbeda dan beberapa perombakan. Entah deh bakal ada yang mau baca apa gak
karena saya menulis cuma untuk menyalurkan hobi. Yah, syukur-syukur kalo ada
apresiasinya. So, mohon vote, comment, and share nya yaaaa..

