Sabtu, 05 September 2015

# Anime # Fanfiction

[Sasusaku] The Motel - Chapter 5



Title : Rahasia
The Motel
Chap 5
Genre : Horror, romance, friendship, dan sisanya tentukan sendiri ya !
Rate : T
Cast : Sasuke, Sakura, Naruto, Ino, Sai, Temari, Shikamaru
Cast lain menyusul . . . .
Pair : Sasusaku, SaIno, ShikaTema
Warning : AU, OOC, abal, ngebingungin, gaje, Typo(s), jelek, alur pasaran, dll
Summary :: Shhh ! kamu harus cepat-cepat pergi dari sini . . . !
Ia tersadar dari tidur nya sambil memegangi kepalanya yang terasa berat. Ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi. "jangan berisik . nanti mereka dengar" "mereka? Mereka siapa?" "ada rahasia dalam rumah ini" "maksudnya? Saya benar-benar tidak mengerti" "dengar, disini terlalu berbahaya. Sebaiknya kalian harus cepat pergi dari sini". Aargghh ... andai saja kami tak terjebak disini . . . [Bad Summary]
.
.
~DON'T LIKE, DON'T READ~
~NO BASHING, NO FLAME~
~AND DON'T COPY THIS FF WITHOUT MY PERMISSION~




Previous Chap


.
.
Happy Reading~
.
.
*_**The Motel**_*
Prev Chap
" kau mau kemana Kiba? " Shikamaru dan Sai yang baru masuk bertanya
" keluar. Cari angin! Di kamar panas " balas Kiba dingin meninggalkan tatapan heran. Shikamaru dan Sai berpandangan sebentar lalu saling mengangkat bahu
" hati-hati kiba " teriak Sai dari kejauhan berharap sang empu mendengarnya. Ketika ingin menutup pintu kamar, kedua laki-laki tersebut di kagetkan dengan kedatangan Sakura dan Ino dengan wajah panik.
" kalian kenapa? "
" Temari.. dia.. "
.
.
Happy Reading..
.
.
Yamanaka Ino, gadis bak barbie berambut pirang sedang duduk termenung di teras motel. Di tangan nya terdapat sebuah figura dengan ukiran rumit yang cantik. Air mata turun makin deras kala ia melihat sebuah foto salah satu dari tiga sahabatnya. Hinata Hyuuga, salah satu sahabat nya yang tersayang dan yang sering menjadi penengah di setiap pertengkaran nya. menghilangnya Hinata jelas membuat ia begitu terpukul, sungguh mendadak padahal ia sudah membayangkan liburan menyenangkan bersama sahabat-sahabatnya.
Sebuah tangan menghapus pelan air mata Ino dari belakang, ia tersentak sejenak sebelum akhirnya kembali menangis
" Kau jelek " Ino melotot tajam kepada suara yang ia yakini milik Sai
" Diam kau muka palsu " desis Ino tak terima
" Kkk~ begitu lebih baik Ino-chan, tak boleh ada air mata di liburan – "
" Kau bilang apa? Liburan? Ck! Kau sudah gila ternyata " potong Ino membuat Sai mengerucut sebal
" Aku belum selesai berbicara jelek! Ku bilang tak boleh ada air mata di liburan menyedihkan ini. Kau harus kuat dan bertahan. Kau harus semangat supaya Hinata-san tidak sedih disana. Kau harus tetap hidup dan mendoakannya " Ino menunduk, ia telah salah sangka terhadap pemuda yang diam-diam ia taksir.
" G-gomen Sai-kun. A-aku hanya masih tak bisa menerima – "
GREP
Sai memeluk Ino hangat, pelukan penuh kasih sayang berharap Ino akan berhenti menangis.. berharap pelukan ini bisa menghiburnya
" Semua akan baik-baik saja Ino-chan. Sudah berhenti menangis ya " tenang dan hangat.. perasaan keduanya secara tak sadar telah tersampaikan. Kita tinggalkan sejenak pasangan SaIno ini.
.
.
Shikamaru duduk termenung di pinggir ranjang. Mata gelap nya menerawang jauh sebelum ia berangkat ke tempat terkutuk ini. Kenangan nya dengan temari membekas di ingatan nya meskipun perempuan itu kasar dan merepotkan tapi shikamaru tau bahwa perempuan bername tag Sabaku Temari itu adalah perempuan baik dan lembut.
Shikamaru sedang tidur di sebuah bangku panjang di taman belakang sekolah, menikmati semilir angin sore yang menenangkan membuatnya hanyut dalam mimpi indahnya sampai sebuah sabetan pelan membangunkan shikamaru
" Dasar pemalas, hey sekolah sudah berakhir 15 menit yang lalu dan kau masih asik tertidur disini? " Shikamaru mengamati gadis merepotkan di hadapan nya.
" Hah mendokusai na. Apa masalahmu noona... Sabaku Temari? " dengan malas Shikamaru berucap pelan
" Ck! Sana pulang hari sebentar lagi hujan " setelah berkata Temari langsung pergi meninggalkan Shikamaru yang melongo
" Hahh~ dia anak baru minggu kemarin kan? Mendokusai.. " pelan-pelan Shikamaru bangkit dari tempat tidur nyaman nya dan segera pulang.
Shikamaru tersenyum mengingat pertemuan konyol nya dengan temari yang saat itu masih berstatus anak baru di sekolahnya. Temari memang tidak secantik Sakura atau kedua teman nya tapi entah mengapa temari mempunyai pesona tersendiri yang mampu menarik perhatian Shikamaru. Suara berisiknya serta kata-kata tajam nya terselip sebuah perhatian kecil yang di tujukan untuk orang-orang terdekatnya dan Shikamaru menyadari hal itu. Lelah berfikir tentang Temari, Shikamaru memutuskan untuk tidur.

.
.
Sai, Ino, Sakura, Shikamaru, dan Naruto kini tengah berkumpul di sofa. Mereka sedang mencoba mencari Temari dan Sasuke yang mendadak hilang di tambah cerita ganjil Sakura di kamar mereka. Jam menunjukan pukul 4 sore dan mereka belum kembali dari siang tadi
" Darimana saja kalian? " Sai yang duduk di ruang tengah menoleh ke arah pintu
" Hn mencari telepon " jawab Sasuke datar
" Cih dasar teme setidaknya kabari kami. Kau tau Ino dan Sakura panik mencari – "
" Cotto matte Temari-chan, apa tadi kamu menelpon ku? " Temari menggeleng bingung
" Aku bahkan meninggalkan ponsel ku di kamar "
" Kau yakin Temari-chan? " Temari mengangguk sebagai jawaban
Sakura, Sai dan Shikamaru berpandangan. Dengan perlahan Sakura menceritakan kejadian beberapa saat yang lalu dan temari berubah panik. Bahkan ketika Temari mengecek sendiri ponselnya, ia sempat terhuyung dan jatuh pingsan di pelukan shikamaru yang menangkapnya
" Sakura, cepat ambil air dingin " titah Shikamaru sambil membawa Temari ke kamar para gadis di ikuti yang lainnya.
Sakura melangkah ke lantai atas dan menuju dapur. Disana dia tidak menemuka Mei Terumi pembantu yang biasanya ada disana. Berkali-kali Sakura memanggil Mei ataupun Kabuto tapi tetap saja tak ada sahutan. Dengan kesal Sakura memutuskan mengambil sendiri ke dalam kulkas dan alangkah terkejutnya Sakura mendapati isi kulkas banyak baskom yang terisi penuh oleh darah
" Darah – "
SREK
Telinga nya samar mendengar suara di dalam kamar nomor 20. Dengan perlahan Sakura mendekati kamar tersebut dan langsung mengintipnya. Belum berakhir keterkejutannya dengan baskom berisi darah, Sakura kembali membulatkan iris emeraldnya ketika mendapati bibi Mei tengah mengepel lantai yang penuh bercak darah.
Sadar ada yang memperhatikan, Mei berhenti mengepel dan terkejut melihat Sakura sedang mempergoki aktifitasnya. Dengan gerakan cepat Mei menarik Sakura masuk ke kamar bernomor 20 dan menutup pintunya. Sakura yang baru mau angkat bicara harus terdiam ketika Mei menyuruhnya tutup mulut
" Jangan berisik Sakura-san. Nanti mereka dengar "
Sakura menaikkan satu alis nya " mereka? Mereka siapa Baa-san "
" Ada rahasia dalam motel ini Sakura-san " Mei memulai ceritanya
" Rahasia? Rahasia apa? " oke, Sakura mulai penasaran kali ini. Tak di hiraukan bau khas darah yang mengocok perutnya. Membuat ia mual
" Degar. Kalian semua harus pergi dari sini. Kalian tidak boleh disini " suaranya terdengar panik. Kenapa? – fikir Sakura
" Kenapa – "
" Disini terlalu berbahaya sakura-san. Baa-san mohon tinggalkan Motel ini secepatnya "
" Kami tidak bisa meninggalkan tempat ini tanpa Kiba dan Hinata Baa-san. " Sakura bergumam lirih sambil menundukkan kepalanya
Mei menatap Sakura penuh sesal " Maafkan aku Sakura-san tapi kedua temanmu sudah mati terbunuh "
" Apa?! Bagaimana mereka bisa... " Sakura tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Sambil terisak, Sakura jatuh terduduk " tidak mungkin.. hiks.. Baa-san pasti bohong kan? "
Mei memegang pundak Sakura " percayalah padaku Sakura-san. Kalau bisa, aku pun ingin sekali keluar dari sini tapi aku tidak bisa melakukan itu. Lihatlah darah ini, semua yang menginap disini pasti akan mati "
" Sebenarnya apa yang terjadi pada Kiba dan Hinata Baa-san? "
" Maafkan aku Sakura-san, sebenarnya akulah yang masuk ke kamar teman mu dan mengambil semua barang-barangnya. Mereka.. mereka adalah korban Elizabeth-sama ibu dari Karin-san. Tapi Baa-san biasa menyebutnya Ratu Vampire " dan Sakura lemas seketika. Sungguh bukan ini liburan yang ia bayangkan
.
.
Jam terus berputar. Sasuke dan kawan-kawan mulai resah menanti kedatangan Sakura. Naruto yang ingat akan janjinya berlalu pergi diam-diam sampai tak ada satupun yang menyadari.
Naruto sampai di halaman samping Motel. Ia terus menunggu tapi setengah jam berlalu, Karin tak kunjung muncul. Tanpa sengaja Naruto menemukan sebuah benda yang berkilauan terkena matahari sore. Ternyata itu sebuah Kunci dengan gantungan bertuliskan angka 12.
" Gotcha! " Naruto berfikir kunci itu adalah kamar Karin. Ia baru saja akan beranjak pergi jika saja ia tak mendengar suara musik. Dengan pelan ia mengikuti arah suara tersebut dan menemukan sebuah nisan.
" Elizabeth? Mungkinkah itu ibunya Karin-chan? " tak jauh dari sana ia mendengar sebuah lagu yang di putar semakin keras. Sebuah lagu yang cukup familiar di telinganya. Mengandalkan instingnya, Naruto mencari asal suara tersebut.
" Hinata-chan.. " Naruto dapat merasakan jantungnya berhenti berdetak. Melihat sekop yang menganggur, segera saja ia menggali tanah tersebut. Baru beberapa kali menggali, ia menemukan barang-barang Hinata yang terkubur. Naruto terus menggali sampai ia tak dapat menemukan mayat Hinata. Rasa panik menjalari hatinya ketika ia juga menemukan barang-barang milik Kiba. Tapi ia juga tidak bisa menemukan jasad Kiba disana. Naruto mengelap peluh yang membanjiri tubuhnya dan tersentak melihat banyak kelelawar terbang berhamburan.
' Ah.. Kunci ' ingat temuan nya tadi, naruto merogoh saku nya dan bergegas masuk kedalam untuk pergi ke kamar 12. Naruto mengetuk pintu kamar 12 dengan tergesa-gesa dan memanggil nama Karin. Merasa tak ada jawaban, Naruto tanpa pikir panjang langsung masuk dan matanya membulat mendapati keadaan kamar 12. Bau busuk begitu menyengat membuat perutnya mual ditambah apa yang di lihatnya benar-benar membuatnya shock. Kakinya mulai gemetar dan pusing melanda kepala kuningnya.
Sebelum jatuh pingsan, ia keluar dari kamar meninggalkan mayat Hinata dan Kiba yang terbujur kaku. Beberapa mayat lainnya juga ada dengan kondisi bagian dada dan perut terbelah, organ dalamnya pun telah di masukkan kedalam toples berisi bahan pengawet
" Naruto ! " suara lirih orang yang memanggilnya itu mengiringi pandangan Naruto yang semakin menggelap. Sakura yang panik segera menghampiri sahabat kuningnya dan mencoba membangunkan nya
" Na-naruto.. Kau kenapa? Naruto bangunlah. Tolonggg! " beberapa langkah kaki terdengar mendekat. Rupanya panggilan kencang sakura terdengar sampai lantai bawah
" Sakura, kenapa dengan dobe? " sasuke mulai mengangkat Naruto. Sedangkan yang di tanya hanya diam dengan pandangan tak tahu.
.
.
.
" Ugh.. " suara rintihan Naruto membuat teman-teman nya menoleh cepat
" Naruto? Kau sudah sadar? Ini minum dulu " Sakura dengan cekatan memberi segelas air pada Naruto. Lirikan tajam Sasuke nampaknya tak di sadari oleh gadis berambut pink tersebut.
Naruto menurut. Ingatannya menerawang ke kamar 12 tadi, ingin sekali ia menceritakan pada teman-teman nya tapi entah kenapa semua itu tertahan di lidahnya.
" Sudah waktunya makan malam, ayo kita turun. Naruto kau mau ikut? " Temari menawari Naruto yang di balas gelengan lemah
" Hn, nanti biar ku antar makananmu kemari. " setelah mengatakan itu sasuke berlalu pergi di ikuti teman-teman nya.
.
.
.
.
Makan malam kali ini terasa sepi. Mereka telah kehilangan Hinata dan kini Kiba juga tidak duduk bersama mereka. Menu malam ini terlihat sangat menggoda lidah, tapi semua itu seolah kehilangan selera makan mereka.
" Ayo, Sasuke-kun silahkan dimakan " Karin tersenyum manis menatap Sasuke
" Hn " semuanya makan dengan semangat yang kosong. Bahkan Sakura hanya mengaduk-aduk makanan nya membuat Sasuke tak bisa menunda rasa penasaran nya
" Kau kenapa Saki " kata Sasuke lembut membuat semua yang di meja makan menatap Sasuke takjub.
' Ternyata Sasuke bisa selembut itu ' – fikir mereka kompak
" Um.. tidak apa-apa Sasuke-kun "
" Ayo, buka mulutmu " Sasuke menyuapi Sakura dengan sendok makan nya
" Aku bisa sendiri Sasuke-kun " tolak Sakura
" Sa-ku-ra " desis Sasuke tak sabar. Ia sungguh tak ingin ada penolakan dari gadis pink itu. Mendengar nada Sasuke, Sakura mengangguk dan menerima suapan Sasuke
' Ciuman tidak... langsung kan? Wow! ' – batin mereka lagi. Karin menatap jengkel kearah sakura. Ia ingin di posisi itu. Ia ingin di perhatikan oleh Sasuke
" Ah.. Sasuke-kun.. mana teman mu yang berambut kuning itu " tanya Karin sambil memegang lengan Sasuke
" Di kamar " Sasuke kembali sibuk makan
" Kenapa tidak di ajak makan? "
" Entahlah Karin-san, dia mendadak diam seperti habis melihat hantu " jawab Temari
Karin tertawa dengan anggun " Kau masih percaya hal seperti itu di era Modern ini? "
Sakura meletakkan alat makannya dengan tenang dan berlalu pergi meninggalkan teman-teman nya
" Kenapa dia? " tanya Karin bingung
" Dia tidak enak badan " jawab Ino " Ia terlalu khawatir menjadi korban vampir yang berikutnya " Ino meletakkan sendok makannya dan berlalu pergi mengikuti Sakura
Karin menatap Sasuke dan Shikamaru sejenak lalu beralih ke Sai " Ada apa sebenarnya Sai-san "
Sai menghela nafas " Harusnya kami yang bertanya ada apa dengan Motel ini? " Karin menaikan satu alis nya sebagai tanda tak mengerti
" Karin-san.. Kau tau bukan bahwa Hinata dan Kiba menghilang? Sekarang giliran Naruto yang bertindak aneh hari ini bahkan ia tidak bisa berbicara. Sakura-chan mengatakan pada ku bahwa disini ada ratu vampir yang menghisap – "
" Apa? Ratu vampir? Lelucon apa lagi ini Sai-san? Hahaha oke anggap saja itu benar. Lalu darimana Sakura-san tau akan vampir? " Karin tertawa lepas mendengar penuturan konyol Sai
" Pembantu bernama Mei Terumi " Shikamaru dan Sai masih diam
Karin tertawa lebih keras " Jangan percaya padanya Sai-san, dia itu sudah gila. Tapi walaupun begitu kerjanya masih bagus walaupun ia sudah sedikit tua. Dia sudah bekerja disini bertahun-tahun dan masih hidup kan? "
" Entahlah. Hinata dan Kiba menghilang. Sakura dan Naruto kini ketakutan. Mei-san mungkin gila karena ia bekerja untuk orang-orang yang sakit jiwa " Temari berkata ketus
Karin mengubah posisi duduknya " Jadi maksudmu aku dan tou-san ku gila, eh? "
"..."
" Begini saja, nanti malam tou-san pulang. Besok pagi biar ia memeriksa kondisi mental Naruto-san saja. Bagaimana? " tawar Karin
Sasuke menatap dalam pada Karin " Hn, dan satu lagi. Kapan mobil kami selesai di servis? "
Di luar motel, Kabuto tengah menarik mobil van Kiba dengan mobil derek untuk bergabung dengan bangkai-bangkai mobil lainnya.
.
.
.
Di kamar, Kabuto memutar bola mata bosan mendengar rengekan sang istri yang sudah merasa muak dengan apa yang mereka lakukan selama ini. Mei Terumi sudah tak sanggup menyediakan baskom darah untuk tuannya Elizabeth. Dia juga mengutuk Kabuto yang dengan tenang membunuh para tamu untuk di sedot darahnya dan menjadikan tubuh mereka sebagai santapan Anjing.
" Kabuto-kun, aku benar-benar tak sanggup lagi. Kami-sama akan mengutuk kita "
" Cih! Dari awal kita kenal dengan keluarga ini, kita sudah berjanji untuk melupakan perkara dosa ini. " ucap Kabuto kesal
" Tapi kita sebentar lagi akan meninggal, sudah sepatutnya kita berhenti dan bertaubat memohon ampun pada Kami-sama " Mei masih mencoba membuka fikiran Kabuto
" Apa? Cih! Kau tau? Aku mulai menikmati pekerjaan ini " kabuto menyeringai sadis
" Kau berubah Kabuto-kun. Terserah padamu. Besok aku tetap akan pergi dan melaporkan ini pada – "
Sebelum Mei menyelesaikan kata-katanya, Kabuto sudah lebih dulu mencekik istrinya. Setelah kejang beberapa detik lamanya, akhirnya Mei Terumi menghembuskan nafas terakhir dengan mata mendelik kearah Kabuto. Seringainya semakin besar mendapati sang istri meninggal di tangannya. Dengan senyum puas, Kabuto memulai ritualnya. Dia menyedot habis darah Mei dengan jarum suntik ukuran besar
" Hmm Orochi-sama pasti akan senang dengan persembahanku "
.
.
.
Di kamar, sakura berusaha keras meyakinkan Ino dan Temari dengan apa yang ia dengar dari Mei Terumi.
" Aku kecewa Sasuke-kun dan yang lain tak mau percaya padaku " sakura memulai aksi ngambeknya
" Tenanglah jidat, aku yakin Sasuke-kun bukannya tak percaya. Hanya saja ia butuh bukti. Kau tau perangainya Uchiha itu bukan? Lagipula omogan bibi itu tidak harus di percaya bukan? "
" Aku setuju dengan Ino, Sakura-chan " Temari mulai buka suara
" Kalian ini! Aku benar-benar tak mengerti dengan kalian. Aku tidak mungkin berbohong. Ikut aku, akan ku tunjukkan sesuatu " dengan paksa Sakura menarik Ino dan Temari menuju dapur.
" Buka kulkas itu " titah Sakura. Ino menurut dan membuka kulkas tersebut. Dia menemukan sejumlah makanan dan minuman segar. Tak ada yang mencurigakan bukan?
" Mustahil.. " lirih Sakura " Aku yakin tadi – "
" Sudahlah Sakura-chan, sebaiknya kau istirahat agar besok – "
" Jadi kalian tak percaya padaku? Terserah! "
" Bukan begitu jidat, tapi – " dengan kesal Sakura pergi meninggalkan kedua sahabatnya. Malam itu mereka tidur tanpa ada sepatah kata yang terlontar. Paginya teriakan Ino membangunkan penghuni Motel. Di depan pintu kamarnya tergeletak jasad Shikamaru dengan luka bekas gigitan di lehernya.
.
.
.
TBC
Yosh! Chap 5 update! Aku rasa disini alurnya makin bikin bingung ya? Yah~ aku kurang bakat bikin fict horror. Disini shikamaru udah lewat. Maaf buat penggemarnya shikamaru. Di awal aku udah bilang akan ada yang lewat kan? Oya untuk riview aku bales via PM ya maaf kalau ga di post disini. Hehe dan Setelah ini masih ada orang yang tewas lagi di chap depan. Sedikit bocoran di chapter 6 atau 7 nanti bakal ada kedatangan itachi dan apa akan tambah korban lagi? Tunggu aja kelanjutan fic nya yaa.. RnR please..
Uchiha Ouka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Us @soratemplates