Sabtu, 05 September 2015

# Anime # Fanfiction

[Sasusaku] The Motel - Chapter 7



Title : Menghilangnya Sakura
The Motel
Chap 7
Genre : Horror, romance, friendship, dan sisanya tentukan sendiri ya !
Rate : T
Cast : Sasuke, Sakura, Naruto, Ino, Sai, Temari
Cast lain menyusul . . . .
Pair : Sasusaku, SaIno
Warning : AU, OOC, abal, ngebingungin, gaje, Typo(s), jelek, alur pasaran, dll
Summary :: Shhh ! kamu harus cepat-cepat pergi dari sini . . . !
Ia tersadar dari tidur nya sambil memegangi kepalanya yang terasa berat. Ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi. "jangan berisik . nanti mereka dengar" "mereka? Mereka siapa?" "ada rahasia dalam rumah ini" "maksudnya? Saya benar-benar tidak mengerti" "dengar, disini terlalu berbahaya. Sebaiknya kalian harus cepat pergi dari sini". Aargghh ... andai saja kami tak terjebak disini . . . [Bad Summary]
.
.
~DON'T LIKE, DON'T READ~
~NO BASHING, NO FLAME~
~AND DON'T COPY THIS FF WITHOUT MY PERMISSION~

Previous Chap

.
.
Happy Reading~
.
.
*_**The Motel**_*

[Prev Chap]
“Welcome Dei. Kita berada di wilayah yang mereka sebut Rumah Ratu Vampire” gumam Itachi membuat Deidara beringsut mendekat kearah Itachi.
“Maksudmu, hewan kecil itu adalah kelelawar?”
Belum sempat Itachi menjawab, hewan yang disebut kelelawar itu terbang secara bersamaan mendekati Deidara dan Itachi. Dengan satu tarikan, Itachi mengajak Deidara masuk ke mobil.
BRAKK!!
“Hampir saja.. kelelawar jenis apa mereka itu? Aku belum pernah melihatnya. Itu pasti bukan kelelawar biasa” racau Deidara.
“Lebih tepatnya Kelelawar vampire” – Itachi
.
.
Happy Reading..
.
.
“Kelelawar vampire?”
“Hn. Dinamakan kelelawar vampire karena makanan pokok mereka adalah darah, bukan buah-buahan” Jelas Itachi.
“Tak ku sangka ternyata kelelawar jenis itu ada juga disini. Memikirkannya saja sudah membuatku merinding, un” gumam Deidara sambil memeluk erat lengan Itachi.
“Hei!! Lepaskan tanganmu, aku masih normal ‘tau. Menjijikan sekali” gerutu Itachi tak terima tubuhnya di ‘jamah’ oleh Deidara.
“Cih.. kau fikir aku maho? Ah.. tapi kenapa bisa ada kelelawar jenis itu, un?” Tanya Deidara.
Itachi menyenderkan tubuhnya di jok mobil seraya menghela nafas pelan “Kelelawar vampire terbagi menjadi 3 jenis, yaitu Demodus Rotundus, Diaemus Youngi, dan Diphylla Ecaudata. Tapi yang menjadi musuh para peternak adalah yang jenis pertama. Mereka bisa menghisap darah sapi, kuda, atau babi selama setengah jam non stop. Sedangkan 2 jenis lainnya hanya menghisap darah burung. Biasanya sih mereka banyak ditemukan di beberapa Negara bagian Eropa dan benua Amerika, baik Tengah maupun Selatan.”
Deidara mengangguk tanda mengerti “Tapi bagaimana mereka bisa sampai sini kalau populasi mereka banyak di negara Eropan?”
Itachi menatap tajam jalanan yang lurus “Itulah yang harus kita cari tahu. Kemungkinan besar Sasuke dan yang lain juga bisa kita temukan.” Saat itulah Deidara tau bahwa Itachi benar-benar serius akan mencari tau semua kejadian janggal yang baru saja mereka alami. ‘Sasuke.. ku harap sepupuku Ino baik-baik saja’ batin Deidara
Mereka kembali melanjutkan sisa perjalanan dalam hening. Itachi dengan wajah seriusnya tampak berfikir keras. Deidara focus pada jalanan di hadapannya yang mulai dikelilingi kabut tebal.
Tiba-tiba terdengar suara letusan ban yang pecah. Mobil berjalan oleng dan terbalik. Keduanya tidak sempat menyelamatkan diri dan mereka pun tak dapat bergerak. Darah mengalir dari sekujur tubuh mereka.
.
.
.
Kabuto tiba dengan mobil dereknya. Dia memeriksa kondisi Itachi dan Deidara yang berada dalam posisi terbalik di mobil. Ia sempat terkejut begitu mendengar suara batuk Itachi.
“Tolong.. uhukk uhukk” Itachi terbatuk kecil

Kabuto berusaha membantu mengeluarkan Itachi. Ia juga berhasil mengeluarkan Deidara yang terjepit didalam mobil.
“Dia Cuma pingsan” kata Kabuto
“Syukurlah”
“Sebaiknya kamu beristirahat saja di dalam motel sana.” Tunjuk Kabuto
Itachi mengamati motel yang ditunjuk Kabuto. Pandangannya menyapu jalanan tempat terjadinya kecelakaan. Disana pula ia menemukan banyak pecahan kaca, serpihan mobil, tetesan darah, dan paku-paku kecil berserakan. Tanpa butuh waktu lama, otak jenius Itachi tau bahwa kemungkinan besar Sasuke ada di dalam. ‘Hn, menarik’ fikirnya
“Bagaimana dengan temanku?”
“Biar nanti saya yang urus. Ah ya panggil saja Kabuto” pria berkacamata tersebut tersenyum
“Hn, Itachi. Ku tunggu di motel. Tapi sebelumnya bisa tolong ambilkan dompet saya yang terjatuh di dalam mobil, Kabuto-san.”
Kabuto mengangguk dan segera menunduk untuk berniat masuk ke dalam mobil. Namun dengan cepat, Itachi memukul tengkuknya dengan keras. Kabuto tersungkur tak sadarkan diri. Itachi mengikat tangan, kaki, dan mulutnya dengan selotip besar lalu membaringkannya di dalam mobil Derek. Mendudukan Deidara di samping mobil terbalik itu dan pergi menuju motel.
.
.
.
Dikamar nomor 13, Orochimaru sudah selesai dengan Hinata dan Kiba. Dia berbisik di telinga Naruto, “Sabar. Nanti giliranmu, Naruto-kun.”
Nyali Naruto menciut seketika. Air matanya mengalir perlahan tapi mulutnya terkunci bahkan tubuhnya pun terasa kaku. Yang terbayang di benaknya adalah pintu gerbang kematian yang terbuka lebar. ‘Inikah akhir hidupku Kami-sama? ‘gak elit banget mati karena di sekap oleh dokter gila ini. Sakura-chan, teme, tou-san, okaa-san, terlebih untuk ramen teuchi-jiisan maafkan aku’ batinnya miris. Bukankah kau terlalu berlebihan, Naruto?
Orochimaru tersenyum puas dan pergi meninggalkannya. Tak lupa ia mematikan lampu dan mengunci pintu. Dalam keheningan kamar beraroma anyir darah itu Naruto hanya bisa pasrah. Sekelebat wajah orang-orang tercinta berkelebat bagai rekaman film di otaknya. Pasrah.. namun, ketika tangannya menyentuh sesuatu, harapan hidupnya bangkit. Dia mengeluarkan kunci kamar dari dalam kantong celananya.
Batinnya menjerit, Naruto berusaha keras menggerakan kakinya mengabaikan tubuhnya yang terasa di tusuk-tusuk. Dengan kekuatan penuh ia menghentakan badannya, memaksanya bangkit meraih knop pintu. Peluh mengalir deras melewati wajah putihnya.
Seolah mendapat keajaiban, dengan tubuh bergetar ia berjalan terseok menuju pintu. Meraih gagang pintu dan membukanya dengan kunci tersebut. Cahaya lampu diluar mendorong naruto untuk terus berjalan. Yang ada di benaknya Cuma satu, Lari secepatnya. Udara kebebasan tercium olehnya hingga ia berpapasan dengan seseorang.
“Astaga, dobe kau kenapa?” Sasuke membopong tubuh ringkih Naruto.
“Hinata-chan dan Kiba… mati”
Sasuke menaikkan alisnya “Mati? Kenapa?
Belum sempat menjawab, Naruto sudah keburu pingsan membuat Sasuke menghela nafas.
Dari kamar nomor tiga terdengar teriakan Karin. Sai yang menganggur pun segera mendatangi kamar tersebut dan terkejut melihat Temari yang tergeletak dengan leher nyaris putus sedangkan Ino terlihat meringkuk ketakutan disudut kamar. Sai mengepalkan tangannya.
“Jadi, selama ini kau pelakunya?” Karin tersenyum menyeringai dan segera berlari keluar motel. Sai yang kaget langsung berlari menghampiri Ino dan menangkup wajahnya.
“Kau tidak apa-apa kan? Apa yang sakit?” Tanya Sai
“S-sai.. syukurlah kamu disini. A-aku – “
“Ssstt.. nanti saja ceritanya, sekarang yang perlu kita selamatkan adalah… “ Sai tampak mengingat sesuatu. “Sakura?”
Dia berlari menuju kamar Sakura diikuti Ino di belakangnya. Ketika pintu terbuka, mereka tidak mendapati Sakura di dalamnya.
“S-sakura? Dimana Sakura? Dia tadi bersamamu kan?” Ino berteriak histeris sedangkan Sai jatuh terduduk. Mereka hanya bisa berharap sakura baik-baik saja.
.
.
.
Karin terus berlari menjauh dari motel. Di luar sana, ia melihat seekor anjing tengah menggonggong. tangan anjing itu mencakar-cakar pintu mobil. Karin yang melihat Kabuto diikat segera menghampirinya dan membuka ikatannya. Kabuto menjerit keras setelah tangannya di gigit anjing tersebut.
“Anjing sialan!” Kabuto berteriak menyuruh anjing rabies itu diam
“Maaf, Karin-sama. Dia hanya ingin melindungi – “
“Ah sudahlah! Cepat bantu saja membalikkan mobil ini.” Karin bersiap di sisi mobil Itachi.
“Ha’i Karin-sama” dalam waktu singkat, mobil tersebut sudah terbalik ke posisi semula.
“Aku harus pergi”
“Kemana Karin-sama?” Karin tidak menjawab. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya mobil tersebut bisa di starter dengan kunci seadanya yang ia buat.
“Bagaimana dengan orang ini?” tunjuk Kabuto. Karin melirik Deidara tanpa minat
“Tinggalkan ia disini. Bawa keluar tou-san dan baa-san. Lalu bunuh Sasuke dan teman-temannya!”
.
.
Ketika sedang termenung, mereka bertemu Itachi yang berada di ujung lorong kamar. Sai menceritakan semua yang terjadi pada mereka termasuk hilangnya Sakura.
“Lalu dimana Sakura?” Tanya Itachi. ‘Baka otouto, kemana kau?’
“Aku khawatir nasib Sakura akan sama seperti Hinata yang dimakan Ratu Vampir” jelas Ino
“Apa mak – “
“Tidak! Dia benar-benar Vampire.”
Sai menggeleng mendengarkan racauan Ino “Tidak mungkin. Ayolah.. pasti ada penjelasan yang lebih logis lagi disini.”
Tiba-tiba dari lantai atas terdengar suara benda jatuh dan terus menggelinding ke bawah. Mereka terkejut menyadari potret Elizabeth yang terpajang di dinding lantai atas hancur.
Sai mengeluarkan potret itu dari bingkai kacanya. Ketika ia mengusap wajah yang ada dalam foto, ia berteriak seperti orang kesurupan dan badannya pun kejang-kejang. Itachi panic seketika namun beberapa detik kemudian Sai diam tak bergerak.
“Sai, kau kenapa?” Tanya Itachi
Sai memperlihatkan protet Elizabeth “Elizabeth tidak mati karena sakit. Tapi dia tewas dibunuh.”
.
.
Dengan pelan, Kabuto menyelinap menuju belakang motel. Tiba-tiba anjingnya menyalak membuat Kabuto kalap karena anjing tersebut tak mau diam bahkan dengan isyaratnya. Dengan marah Kabuto menyuruh anjing itu pergi dengan cara memukulnya.
Namun sayang, bukannya pergi, anjing yang kelaparan itu malah menerkam Kabuto dengan ganas. Dia menggigit seluruh bagian tubuh Kabuto hingga laki-laki itu tewas dengan tubuh tercabik.
.
.
“Dibunuh?” Tanya Itachi penasaran
“Ha’i. Elizabeth menjadi tumbal suaminya sendiri, Orochimaru. Lehernya di gigit dan darahnya di hisap oleh ibu mertuanya, Eli-sama si Ratu Vampire yang mengidap penyakit aneh. Orochimaru menyebutnya penyakit… ah aku lupa.”
“Porphyria?” Tanya Itachi
“Tepat. Penyakit apa itu Itachi-nii?”
Itachi menatap Said an Ino. “Porphyria berasal dari bahasa Yunani yang berarti warna ungu. Hal ini karena air kencing orang yang mengidapnya berwarna merah bercampur biru gelap. Orang yang mengidap penyakit ini tidak bisa memproduksi salah satu komponen darah yaitu Heme.
“Apa penyakit ini menular?” Tanya Ino yang mulai mengerti
Itachi menggeleng “Penyakit ini merupakan penyakit genetic bawaan turun temurun jadi tidak akan menular. Penyakit ini banyak ditemukan oleh kalangan bangsawan Eropa Timur pada abad pertengahan.”
“Elizabeth merupakan keluarga dari Eropa Timur. Masuk akal juga sih. Apa penyebab penyakit ini?” ucap Sai.
“Dokter percata kalau penyakit ini timbul karena perkawinan sedarah. Zaman dulu si penderita sering disarankan untuk meminum darah manusia atau hewan untuk membangun kekuatan tubuh. Para penderita akan mengalami perubahan fisik seperti kulit pucat, luka yang sulit sembuh, kulit disekitar mulut jadi kaku, dna timbul taring panjang. Mereka juga akan sensitive terhadap cahaya matahari.” Jelas Itachi mencoba mengingat-ingat
“Dan jika mereka terkena matahari, kulitnya akan terbakar?” Itachi mengangguk mendengar penuturan Sai.
.
.
.
Karena tidak bisa membuka pintu kamar nomor 12, Sai menggunakan kunci yang ia temukan di halaman samping dan juga ia pakai kabur menyelamatkan diri. Di belakangnya berdiri Ino dan Itachi. Setelah terbuka, bau amis langsung menyergap indera penciuman mereka.
Baru beberapa langkah saja Sai sudah muntah. Ino shock berat melihat tubuh Hinata dan Kiba yang mengenaskan. Air mata tak dapat ditahan Ino ketika melihat organ dalam sahabatnya menghilang. Itachi menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan. Dari semua yang ada disana, Itachi tertarik pada sebuah laptop yang ada di atas meja. Setelah membukanya, tangannya terampil menekan tombol-tombol pada keyboard. Tak lama, sebuah situs pribadi Orochimaru muncul. Ketiga orang itu terkejut membaca isi situs tersebut.
Di sana tertulis bahwa Orochimaru telah melakukan ratusan operasi transplantasi organ tubuh, terutama pencakokan ginjal. Pasiennya banyak yang berasal dari kalangan menengah sampai atas. Untuk menjaring mereka, Orochimaru bahkan membuat website yang menyertakan nomor telepon, handphone, dan alamat e-mail.
“Jadi.. ini pekerjaan dokter itu?” Ino membuka suara setelah terdiam beberapa saat
“Hn. Omong-omong mereka tidak ada disini” Itachi menyahut pelan dengan tangan mengelus dagu.
“Pasti di kamar nomor 13!” seru Sai.
.
.
Sasuke merebahkan Naruto di kamar lain. Terdapat sebuah jendela kecil yang terbuka, sebuah nakas, lemari pakaian, dan ranjang king size. Setelah memberikan air minum, Sasuke membiarkan Naruto tenang.
“Kau pegang kunci ini sementara aku akan menguncimu dari luar. Kau aman sekarang dobe. Aku akan menemui Sakura.” Dengan langkah pelan Sasuke meninggalkan Naruto. Laki-laki berambut kuning jabrik hanya tersenyum menatap Sasuke yang kini menghilang dari balik pintu.
Di luar kamar, Sasuke berjalan mencari Sakura. Tak lama ia menemukan Sakura tengah duduk di bawah pohon Oak. Sosoknya yang cantik berbaur lembut dengan angin yang menerbangkan mahkota pink nya. Sasuke menepuk pelan pundaknya.
“Bisakah kau bergabung dengan Ino dan tidak sendirian disini pinky?” Sasuke mendudukan dirinya di sebelah Sakura.
“Sasuke-kun? Kau tenang saja aku kan baik-baik saja” Sakura tersenyum manis.
“Hn” Hening. Mereka menikmati keheningan yang hangat ini. Berdua bersama orang yang di sayang. Bukankah itu terasa membahagiakan?
“Sasuke-kun.. kalau aku mengikuti takdir Hinata-chan apa kau akan melupakanku?” Tanya Sakura dengan tatapan menerawang.
“Hm?” alis Sasuke terangkat tinggi-tinggi.
“Takdir seseorang bahkan kematiannya takkan ada yang tau bukan?” Sakura masih saja bicara tanpa memperdulikan tatapan menusuk Sasuke. Dengan paksa, Sasuke membalikkan tubuh Sakura hingga mereka berhadapan.
“Dengarkan aku. Kau takkan berakhir sama sepertinya Sakura.” Dengan sekali gerakan, Sasuke mencium lembut bibir tipis Sakura.
“Kau akan ku lindungi, Sakura” Sasuke menatap lembut dan dalam iris emerald Sakura. Gadis berambut softpink itu tersenyum. Memajukan wajahnya dan mengecup singkat bibir pemuda di hadapannya.
“Jadilah milikku, Sakura. Dan aku tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun.” Kening mereka beradu bersamaan dengan tatapan Sasuke yang semakin dalam.
“Apa aku bisa menolakmu, hm?” senyuman tipis menghiasi wajah tampan Sasuke. Ia kembali mencium gadisnya dengan lembut hingga perlahan mendorong Sakura untuk berbaring di atas rumput. Tak lama mereka berciuman, hingga akhirnya Sasuke pamit untuk kembali ke tempat Naruto.
“Tunggulah disini. Aku akan segera kembali”
15 menit berlalu setelah kepergian Sasuke, gadis musim semi itu masih duduk disana. Hingga akhirnya ia merasakan pukulan di tengkuknya. Gadis itu pingsan seketika.
.
.
Itachi, Sai, dan Ino tiba di kamar nomor 13. Setelah saling berpandangan dan mengangguk, mereka mendobrak paksa kamar tersebut. Mereka terkejut dengan kondisi kamar yang gelap dan pengap. Tiba-tiba sesosok hitam tinggi besar menyerang Itachi hingga wajahnya tergores. Sosok itu mencekik Itachi dengan sekuat tenaga. Sai reflek mendorong sosok tersebut hingga terpental keluar jendela. Terdengar jeritan sesaat sebelum sosok itu jatuh.
Eli Aquendas ibu dari Orochimaru yang telah berubah wujud menjadi seperti vampire tak sempat meregang nyawa. Ia tewas ketika pagar besi itu menancap tepat di jantungnya. Sosoknya benar-benar mengerikan. Wajah pucat, penuh luka, mulut kaku, dan gigi taringnya yang panjang.
“Apa kau percaya drakula sekarang?” tanya Sai sambil tersenyum. Itachi terdiam sebentar sambil memegangi lehernya.
“Kisah tentang drakula bermula dari sosok seorang tokoh pahlawan nasional bangsa Rumania. Namanya adalah Vlad Tepes III yang hidup antara 1431-1476. Ayahnya – Vlad Tepes II – tewas terbunuh dan saudara kandungnya mati dikubur hidup-hidup. Semasa hidupnya Vlad Tepes II mendapat bintang penghargaan Societas Draconis dari raja Sigismund von Luxemburg sebagai Pahlawan Naga. Sejak saat itu ia mencantumkan gelar Drac dibelakang namanya. Dalam bahasa latin berarti Naga.”
“Lalu bagaimana dengan Vlad Tepes III?” Tanya Ino. Kini mereka berada di luar kamar 13.
“Karena ingin melanjutkan gelar dari ayahnya, ia menobatkan dirinya sendiri sebagai Dracuela, artinya Putera Drac.” Lanjut Itachi. Kedua remaja itu mengangguk.
“Ah.. kita harus cepat mencari Sakura. Ino kau tidak usah ikut. Biar aku dan Sai yang mencarinya.” Sahut Itachi. Meski kecewa, Ino tetap menurut. Ia tau bahwa ini sudah batasnya untuk hari ini. Dia benar-benar sudah lelah baik psikis maupun jasmani.
Disisi lain, Sasuke yang kembali dari kamar Naruto mendadak panik mengetahui Sakura sudah tidak ada disana. Bercak darah di rumput tempat dimana Sakura berada tadi semakin membuatnya kalut. Pemuda raven tersebut menjambak rambutnya frustasi sambil berteriak. Itachi yang mendengar teriakan adiknya segera menghampiri.
“Sasuke! Kau kenapa? Dan.. dimana Sakura?” Tanya Itachi. Sasuke jatuh terduduk sambil menunduk dalam-dalam.
“A-aku.. tak tau”
.
.
TBC
Yahooooo!!! Chapter 7 hadir. Ini sebentar lagi TAMAT ya. Untuk romance maaf banget Cuma bisa ngasih ini karena kondisinya kan lagi pada panic saling mencari satu sama lain. Itachi mencari Sakura sedangkan Sakura bersama Sasuke dan sekarang mereka kehilangan Sakura. Oya,, kira-kira Sakura kemana ya readers?
Yoshh!! Yang penasaran silahkan tunggu chapter depan ya. Oya chapter depan kemungkinan akan author lanjutin minggu depan karna tanggal 8 nanti mau UAS. Jangan lupa riview supaya author tau siapa aja yang nungguin fic ini. Buat yang udah riview makasih banget ya.. aku bener-bener jadi semangat buat lanjutin fic nya. Hehe.. thanks all

Ouka Ciel





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Us @soratemplates