Sabtu, 05 September 2015

# Anime # Fanfiction

[Sasusaku] The Motel - Chapter 6



Title : Kedatangan Itachi
The Motel
Chap 6
Genre : Horror, romance, friendship, dan sisanya tentukan sendiri ya !
Rate : T
Cast : Sasuke, Sakura, Naruto, Ino, Sai, Temari
Cast lain menyusul . . . .
Pair : Sasusaku, SaIno, ShikaTema
Warning : AU, OOC, abal, ngebingungin, gaje, Typo(s), jelek, alur pasaran, dll
Summary :: Shhh ! kamu harus cepat-cepat pergi dari sini . . . !
Ia tersadar dari tidur nya sambil memegangi kepalanya yang terasa berat. Ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi. "jangan berisik . nanti mereka dengar" "mereka? Mereka siapa?" "ada rahasia dalam rumah ini" "maksudnya? Saya benar-benar tidak mengerti" "dengar, disini terlalu berbahaya. Sebaiknya kalian harus cepat pergi dari sini". Aargghh ... andai saja kami tak terjebak disini . . . [Bad Summary]
.
.
~DON'T LIKE, DON'T READ~
~NO BASHING, NO FLAME~
~AND DON'T COPY THIS FF WITHOUT MY PERMISSION~


Previous Chap


.
.
Happy Reading~
.
.
*_**The Motel**_*

Prev Chap
" Aku kecewa Sasuke-kun dan yang lain tak mau percaya padaku " sakura memulai aksi ngambeknya
" Tenanglah jidat, aku yakin Sasuke-kun bukannya tak percaya. Hanya saja ia butuh bukti. Kau tau perangainya Uchiha itu bukan? Lagipula omogan bibi itu tidak harus di percaya bukan? "
" Aku setuju dengan Ino, Sakura-chan " Temari mulai buka suara
" Kalian ini! Aku benar-benar tak mengerti dengan kalian. Aku tidak mungkin berbohong. Ikut aku, akan ku tunjukkan sesuatu " dengan paksa Sakura menarik Ino dan Temari menuju dapur.
" Buka kulkas itu " titah Sakura. Ino menurut dan membuka kulkas tersebut. Dia menemukan sejumlah makanan dan minuman segar. Tak ada yang mencurigakan bukan?
" Mustahil.. " lirih Sakura " Aku yakin tadi – "
" Sudahlah Sakura-chan, sebaiknya kau istirahat agar besok – "
" Jadi kalian tak percaya padaku? Terserah! "
" Bukan begitu jidat, tapi – " dengan kesal Sakura pergi meninggalkan kedua sahabatnya. Malam itu mereka tidur tanpa ada sepatah kata yang terlontar. Paginya teriakan Ino membangunkan penghuni Motel. Di depan pintu kamarnya tergeletak jasad Shikamaru dengan luka bekas gigitan di lehernya.
.
.
Happy Reading..
.
.
“Sekarang kalian percaya padaku kan?” Sakura berteriak gusar menatap teman-temannya
Sai dan Sasuke mengusap gusar wajah dan rambutnya yang mendadak terasa berat. Di hadapannya Shikamaru tergeletak tak bernyawa. Pandangan Sasuke beralih kearah Sakura yang kini di apit oleh Ino dan Temari. Mereka benar-benar tidak tau harus berbuat apalagi.
Sasuke menghela napas berat. “Kemasi barang-barang kalian, kita pulang malam ini”
“Tapi bagaimana dengan Shikamaru?” Tanya Temari
“Kita terpaksa menguburnya disini Temari” jawab Sasuke
“lalu Kiba dan Hinata?” Tanya Ino
“Kita minta bantuan polisi untuk mencari mereka” – Sai
“Naruto? Bagaimana dengan dia?” Tanya Sakura
Tanpa menjawab, Sasuke bergegas menuju kamar nya. Sampai disana, ia terkejut melihat seseorang tengah duduk disamping Naruto yang tertidur lelap. Pria dewasa berkacamata itu mengenakan jas putih khas dokter.
“Siapa kau?” Tanya Sasuke
“Oh ya, perkenalkan, nama saya Orochimaru. Ayah Karin” Orochimaru mengulurkan tangannya.
“Hn, Karin banyak cerita tentangmu” balas Sasuke pelan
Orochimaru mengalihkan pandangannya kepada Naruto “Bagaimana dia?”
“Semalam tidurnya tidak tenang, Dok. Dia juga meracau memanggil-manggil Hinata temannya. Badannya gemetaran dan mulutnya tiba-tiba gagu.” Jelas Sai
Orochimaru menempelkan tangannya di kening dan leher Naruto. Tiba-tiba Naruto terduduk dan berteriak histeris. Orochimaru dan Sasuke berusaha keras untuk menenangkannya. Naruto secara perlahan kembali rileks setelah di tenangkan oleh Orochimaru.
“Sedikit rumit. Biar saya periksa dulu ya” dengan cekatan dokter yang memiliki iris bak Ular itu mengambil stetoskop dan mulai memeriksa Naruto.
“Nah Naruto-san, coba buka mulutmu” Naruto hanya diam menurut setelah Orochimaru mengarahkan senter ke mulutnya.

“Bagaimana tousan?” Tanya Karin.
Orochimaru tersenyum samar “Hanya shock ringan saja kok. Nanti biar saya berikan obat penenang”
“Hn, arigatou gozaimasu Orochi-sensei” yang lainnya membungkuk sopan
“Untuk sementara biarkan ia istirahat di kamar saya saja. Nanti biar Karin yang membawanya dengan kursi roda. Sasuke-kun tidak perlu khawatir, temanmu akan baik-baik saja. Dalam waktu satu atau dua hari, dia sudah pulih.” Jelas Orochimaru sambil membereskan stetoskop.
“Kalau boleh tau kamar anda yang mana?” Tanya Sasuke
“Hm ya, kamar  saya di lantai atas. Nomor 12”
.
.
.
“Ino-san dan Temari-san mau kemana? Kalian mau pergi?” Tanya Karin ketika melihat dua pengunjung motelnya tengah mengemasi barang-barang mereka.
Ino menaikkan alisnya “Bukan urusanmu Karin-san”
“Bagaimana dengan teman-teman kalian? Kalian mau naik apa?” Temari menghampiri Karin dengan wajah sinis
“Seharusnya kamu yang jelaskan kepada kami apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah ini.”
“Maksud kalian apa?” Tanya Karin kurang mengerti.
Ino ikut maju “Cepat atau lambat rahasia kamu akan terbongkar Karin-san”
Karin mengepalkan tangannya dengan emosi tertahan “Memangnya rahasia apa yang kalian tahu hm?”
“Pertama, tempat ini telah dikutuk. Dan pemilik motel ini adalah orang-orang yang terkutuk! Kamu telah membunuh sahabat kami! Sekarang serahkan Ratu Vampire itu!” Ino mengamuk. Dia mencengkram kuat kerah baju Karin. Temari mencoba berusaha keras melerai mereka.
“Cukup! Ini penghinaan namanya. Kalian benar-benar sudah keterlaluan” Karin mulai meradang
“Lalu kau mau apa? Mau membunuh kami juga?” tantang Ino
Karin tersenyum menyeringai “Baik. Setidaknya itu keinginan kalian, bukan?”
.
Dikamar nomor 12, Naruto merasakan seluruh tubuhnya mati lemas setelah mendapat suntikan dari Orochimaru. Meskipun begitu, ia masih bisa mendengar ocehan dan siulan dokter tersebut. Orochimaru itu membedah tubuh Hinata dan Kiba untuk diambil organ tubuhnya.
Sedangkan diteras motel, 30 menit yang lalu tepat setelah Orochimaru keluar dari kamar Sasuke, Sai, Sakura, dan Sasuke mengobrol ringan dengannya.
“Pertemuan kami terjadi secara tidak sengaja. Saya yang baru lulus kuliah sedangkan istri saya baru mau masuk Perguruan Tinggi.”
“Apa orang tua anda tau dengan hubungan kalian?” Tanya Sakura
“Awalnya sih mereka tidak tau dan bahkan mereka tidak menyetujui kami setelah saya beritahu. Akhirnya saya memutuskan untuk tetap membina rumah tangga dengannya tanpa persetujuan orang tua saya” Orochimaru tersenyum
“Lalu kemana orang tua dan istri anda?” Tanya Sasuke yg sedari tadi diam
“istri saya sakit dan meninggal belum lama ini. Ayah saya meninggal minggu kemarin sedangkan Ibu saya sakit keras seminggu setelah kelahiran Karin. Dalam dunia kedokteran, kami menyebutnya sebagai Porphyria. Dia ada di lantai atas kamar 13.”
.
.
.
[Di tempat lain]
Itachi termenung dengan wajah frustasi setelah mendapat telpon dari pihak villa bahwa Sasuke dan kawan-kawannya belum sampai disana setelah dua malam berlalu.
“Baka otouto kau dimana?” gumam Itachi. Matanya hampir terpejam jika saja seseorang tidak menggebrak paksa pintu ruangannya.
BRAK!!
“Yo Itachi-chan!! Ada ap- “
DUAK!!!
“Berhenti memanggilku dengan suffix ‘chan’ Deidara no baka” amuk Itachi.
“ehe-he-he.. e-etto.. gomenasai Itachi. Ah ada apa dengan wajahmu itu?” Deidaraa menyeruput moccacino Itachi yang bahkan belum tersentuh sama sekali oleh sang empu membuat Itachi mendengus sebal.
“Sopanlah sedikit Dei. Pelayan di villa pribadi ku bilang bahwa Sasuke dan yang lain belum tiba disana sejak dua malam yang lalu. Mereka juga tidak bisa menghubunginya.” Walaupun kelihatannya datar, namun Deidara tau sahabatnya tengah memikirkan adik kesayangannya.
“Bukankah kau bilang mereka sudah berangkat sejak kemarin? Kenapa tidak kita susul saja. Ku dengar jalan ke villa mu akan melewati sebuah motel yang cukup misterius” jelas Deidara.
Dengan cekatan Itachi membereskan meja kerjanya dan menyambar kunci mobil nya. “Dei, ikut aku mencari baka otouto” Deidara tersenyum tulus dan berlari mengikuti Itachi.
.
Nice car Itachi” kagum Deidara melihat mobil keluaran terbaru milik Itachi.
Tanpa basa basi mereka segera berjalan meninggalkan kantor Uchiha milik keluarga Itachi. Di tengah jalan mereka terjebak macet. Tak ingin menunggu lama, Itachi memutarbalik kendaraannya mengikuti arah seseorang di ujung jalan. Diam-diam Itachi tersenyum misterius.
Sang Penghisap Darah, kira-kira dari mana ide mereka membuat novel semacam ini ya?” Tanya Deidara seraya mengambil novel bertema Vampire kesukaan Sasuke.
“Banyak sekali novel yang bisa dijadikan sumber untuk membuat cerita vampire. Bisa juga dari beberapa mitos dunia. Misalnya novel berjudul Dracula karya Bram Stoker dan  The Vampyre oleh John Polidoris.” Sahut Itachi
“Aa~ yang ku tau dari film, banyak juga yang mengambil ilham dari Night of Terror, The Death of Dracula, dan Nofesratu: A Simphony of Terror” gumam Deidara
“Hn, kau tau banyak ternyata. Kenapa tiba-tiba kau tertarik dengan tema vampire? Ku kira kau hanya tau seni” Tanya Itachi.
“Mungkin karna legenda yang tidak ada habisnya digali oleh para seniman. Hei Itachi, ini hanya perasaanku saja atau memang jalanan sedikit aneh?” Tanya Deidara
“Jalanan di depan tadi macet jadi ku putar balik dan tiba lah kita disini. Tapi.. kata-kata mu ada benarnya juga Dei.”
“Apa orang tadi tidak salah menunjukkan jalan?” Tanya Deidara mulai was-was.
Itachi kembali tersenyum penuh misteri “Tenang. Kita akan menemukan mereka di jalan ini.”
.
.
Itachi menghentikan mobilnya membuat Deidara mengernyit bingung
“Seriusan? Kau mau berhenti disini? Ini hutan lho, Itachi.” Itachi hanya menggangguk dan menyuruh Deidara turun melalui tangannya. Dengan sangat terpaksa Deidara menurut. ‘Apa Itachi serius? Disini? Sepi begini kok’ fikirnya
Setelah Deidara turun, ia terkejut melihat banyak binatang yang tergeletak mati dengan luka gigitan di lehernya. “Hei Itachi, apa mereka mati karena gigitan di lehernya?”
Itachi mengendikkan bahu “Secara Logika, mereka tidak akan mati kehabisan darah hanya karena luka gigitan sekecil ini. Mungkin Rabies”
“Ha? Rabies? Siapa yang melakukannya?” Tanya Deidara shock
“Ssstt.. dengar sesuatu?” Deidara menajamkan pendengarannya dan mengangguk lalu menunjuk sesuatu. “Hei, apa itu?”
“Welcome Dei. Kita berada di wilayah yang mereka sebut Rumah Ratu Vampire” gumam Itachi membuat Deidara beringsut mendekat kearah Itachi.
“Maksudmu, hewan kecil itu adalah kelelawar?”
Belum sempat Itachi menjawab, hewan yang disebut kelelawar itu terbang secara bersamaan mendekati Deidara dan Itachi. Dengan satu tarikan, Itachi mengajak Deidara masuk ke mobil.
BRAKK!!
“Hampir saja.. kelelawar jenis apa mereka itu? Aku belum pernah melihatnya. Itu pasti bukan kelelawar biasa” racau Deidara.
“Lebih tepatnya Kelelawar vampire” – Itachi
.
.
TBC
Yahoooo!! Ada yang inget fic ini? Atau ada yang nungguin fic saya? Maaaaf banget udah menelantarkan fic ini begitu lama soalnya beberapa bulan lalu udah sempet nulis sampe chapter 9 tapi dengan cerdasnya author install ulang ini laptop dan data nya belum di pindahin ke Disk D. asem emang ye!! Alhasil author kehabisan ide dan selain itu banyak banget tugas di kampus jadi begini deh baru bisa apdet sekarang. Oya.. thanks banget ya yg udah review dan masih nungguin fic ini. Mudah-mudahan chapter depan author post hari minggu. Doain aja dapet ‘ilham’. Maklumlaaahh author lagi galau gara2 ga bisa liat FURUKAWA YUKI ke Indonesia di Wisma Nusantara. Syediihhh ~~
Oke no banyak bacot lagi. Silahkan baca dan kritik sarannya di kotak/? Review ya.

Ouka Ciel desu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Us @soratemplates