Sabtu, 04 Februari 2017

# Fanfiction # Random

[Fiction] Mars vs Venus



#1 Mars vs Venus
"Venus ada?" Mars menyembul dari balik pintu kelas Venus. Neymars Feno Adrian adalah Presiden Mahasiswa kampus Universitas Garuda.
"Ve, dicari Presma." Dengan isyarat mata, Mars meminta Venus menemuinya diluar kelas. 
"Ada apa?"
"Bikinin desain poster buat meet up Tokopedia ya. Hari ini serahin ke gue aja."
"Hah? Hari ini?"
"Iya. Ke markas aja nanti." Dengan pasrah Venus mengangguk. 'Tugas kearsipan sama animasi aja belum kelar.' Batin Venus.
"Tadi ngapain Mars nyariin lo?" Tanya Suci. Ia memperhatikan Venus yang tampak cemberut.
"Biasa. Desain poster buat meet up nanti."
"Oh, deadline kapan?"
"Sore ini. Tugas arsip sama animasi aja belum kelar udah ditimpah lagi. Lo aja lah yg handle "
"Gak lah, yg dikasih amanah kan lo."
.
.
.
Alifa dan Venus masuk bersamaan. Pandangan Mars sesekali terpaku kearah Alifa. Alifa adalah gadis yang disuka Mars sedang Mars sendiri adalah orang yang disuka Venus. Tapi sayang sekali Alifa mencintai pria lain.
"Nih, coba di cek dulu." Ucap Venus sambil memberi flashdisk miliknya. Mars menerima dengan tenang.
"Ini sengaja di gradasi? Coba pake warna biru sama ungu. Gue mau warnanya jadi kayak langit malam."
"Tadi sempet ada plan kesana tapi pas di coba warna textnya jadi agak pucat."
"Yaudah segini aja udah ok kok."
"Yaudah. Tugas gue selesai kan? Gue mau pulang dulu." Venus beranjak bangun namun ditahan Mars.
"Eh eh nanti dulu, kalo ada revisi gimana?"
"Ya lo benerin lagi sendiri. Lo juga anak SMK multimedia kan?"
"Dih udah sini aja dulu." Mars menarik Venus untuk duduk kembali.
Ruangan Senat cukup ramai siang itu. Ada yang bermain scrabble, catur, hingga acara curhat umum pun ada. Disisi lain, Venus sedang asik tiduran disusul Mars yang ikut tidur disampingnya. Venus menghela nafas pasrah.
'1,2,3..' batin Venus terputus ketika sebuah suara yang benar-benar dia hafal berbisik.
"Sentuh aku~"
"Ihh Mars apa banget sih" sungut Venus dengan wajah merahnya
"Hehehe.. canda doang, Ve. Capek nih, pijit dong."
"Kan bisa bilang pijit aja gak usah pake ngomong sentuh-sentuh segala. Erotis banget sih."
"Kan biar dramatis gitu, Ve."
"Kode itu Ve minta di kasih yang plus-plus" sambung Rivan sambil mengerling.
"Gak usah ikut-ikutan deh. Gue colok mata lo nanti." Omel Venus. Semua tertawa mendengarnya.
"Mars mah cowok PHP sih. Gak ada alifa, si Venus di embat. Pilih satu aja Mars sisanya buat gue." sindir Dean. Venus mendelik kesal.
"Kan segala sesuatu harus ada cadangan buat nge-back up. Iya gak Ve?"
"Lo doang Mars yang kayak gitu" balas Venus datar.
"Cowok ganteng mah bebas." Sahut Mars.
"Muka kayak pentul korek bekas aja bangga."
"Kamu berani sama aku?" Mars mendekatkan wajahnya dengan senyum miring tercetak jelas diwajahnya. Venus mendengus.
"Sama-sama makan nasi ngapain takut?"
Varel tersenyum dan segera berbalik. Dan inilah Venus. Sekalipun mulutnya berkata tidak, tetap saja ia akan melakukannya seperti sekarang, Venus segera memijit pundak Mars diikuti obrolan singkat dengan teman-temannya.
Mars tahu bahwa Venus menyukainya karena memang gadis itu yang mengatakan langsung padanya. Tapi syukurlah sejak saat itu mereka tak berubah. Dan begitulah interaksi Venus dan Mars. Mereka saling bercanda, hingga terkadang Venus emosi dibuatnya.
Dua orang dengan tipe nama yang sama, memiliki kecintaan yang sama tentang luar angkasa. Venus dan Mars.
Beberapa orang sudah ada yang pulang, sedangkan Venus masih terjebak bersama pria disampingnya. Menyebalkan sekali pikirnya.
"Gue pulang ya, Mars."
"Hati-hati dijalan ya." gumam Mars. Venus mendelik kesal. 'Kenapa gak dari tadi aja sih?' batinnya.
[OSPEK H-1]
Mars, Venus, Lita, Tama, Vivi, dan Amri tengah berada di ruang kelas yang tepat berada di samping sekretariat Senat. Mereka sedang disibukkan oleh beberapa snack dari mahasiswa-mahasiswa baru.
"Ve, sekalian di data yang perlengkapan sembakonya udah lengkap sama yang masih kurang. Trus nanti langsung kelompokin sesuai kelompok mereka ya." Ucap Agi
"Oke. Guys, bantu gue nge-data ini ya." seru Venus.
.
.
.
Jam menunjukkan pukul 11 malam. Mereka baru saja selesai menyiapkan segala perlengkapan untuk Ospek besok.
"Kalian nginep dikampus kan?" Tanya Vivi. Mereka baru selesai membungkus sembako untuk acara bakti sosial besok. Ini adalah kegiatan rutin Universitas Garuda setiap Ospek.
"Iya, anak cewek di rumah lo kan?" tanya Dean.
"Iya."
"Besok pada bisa bangun pagi kan?" tanya Venus. Ia bangkit dari tidurnya. Mars menahan tangannya untuk bangun. Ya, mereka memang baru saja berbaring berdampingan.
"Bangunin atuh." goda Mars.
"Besok kita kekampus jam 4. Kalian mau di bawain sarapan apa?" Venus mengabaikan candaan Mars dan kembali bertanya.
"Nasi uduk dong sama kopi ya, Ve." Sahut Tama. Venus mengangguk dan memaksa bangkit melepaskan pegangan Mars. Venus memelototi Mars yang hanya tersenyum ringan. 'Ini orang senyum-senyum kayak gak ada rahang aja. Gak tau apa jantung dag dig dug!'
"Minta kunci duplikatnya biar kita gak harus teriak-teriak depan kampus."
.
.
"Anterin bisa kali. Masa tega ngelepas anak cewek pulang tengah malem." mereka baru selesai makan dan tengah menunggu makanan turun ke perut mereka.
"Noh Tama aja sama si Mars biar gue yang jaga sini." Jawab Amri. Ia menelungkupkan kepalanya di meja. Vivi sedikit mengelus rambutnya.
"Gak usah pacaran depan kita kali. Malem woy malem." canda Venus. Yang lain tertawa kecil.
"Iri Ve iri." sindir Mars. Venus meliriknya tajam dan mengepalkan tangannya di depan Mars.
"Udah sih semuanya aja ikut itung-itung jalan malem." Usul Lita.
"Yaudah ayo."
.
.
.
Tiga laki-laki itu akhirnya memutuskan untuk mengantar teman-temannya pulang. Tama dengan Lita, Amri dengan Vivi, dan Mars dengan Venus. Malam ini Venus CS akan menginap dirumah Lita. Kebetulan rumah Lita yang lebih dekat dengan kampus.
"Dingin gak?" Tanya Mars yang berada di barisan belakang. Jalanan saat lenggang malam ini membuat perjalanan mereka lancar tanpa macet.
"Lumayan."
"Lagian kenapa jaketnya ditinggal di markas sih?"
"Lupa, Mars. Tadi kan buru-buru." Dengan sigap Mars menarik tangan Venus dan memasukkannya ke saku jaketnya. Ia membuat gadis itu memeluknya cukup erat. Percayalah, dia juga sebenarnya kedinginan.
Venus hanya diam. Ia tak tahu harus bersikap atau berbicara apa. Ini pertama kalinya dan oh dia sangat berterima kasih pada cuaca dan sang malam untuk hari ini. 'Aku gak keberatan kalo setiap hari kayak gini'
Dengan sedikit ragu, Venus menyandarkan kepalanya di bahu Mars yang kini memperlambat kecepatan motornya. Sesekali laki-laki itu mengusap punggung tangan Venus membuat sedikit getaran aneh di dada gadis itu.
"Ngantuk." gumamnya.
"Tidur aja dulu. Nanti dibangunin." Balas laki-laki dihadapannya.
"Hm."
Tak ada yang tahu seperti apa perasaan mereka terhadap satu sama lain. Yang jelas malam ini mereka hanya mencoba menikmati suasana yang tercipta.
.
.
"Thanks ya, abis ini langsung tidur jangan begadang mulu biar besok gak susah dibangunin." titah Lita. Ketiga cowok itu hanya membalasnya dengan cengiran yang syarat akan protes.
"Makasih ya, Mars." ucap Venus pelan.
"Hm, langsung istirahat ya." Jawab Mars. Gadis cantik itu hanya mengangguk kecil dan ikut masuk menyusul kedua temannya.
"Suit.. suit.. bakal dapet pajak jadian kayaknya nih." ledek Tama.
"Apa sih lo." Kilah Mars sambil menyalakan motornya dan kembali ke kampus.
[Kamar Lita]
"Hahhh.. capek banget jam segini baru selesai." Seru Venus. Ia merenggangkan badannya. Ia dapat mendengar bunyi 'kretek' dari pinggangnya. Ouch!
"Sstt.. malem woy malem" sungut Vivi. "Jadi, kenapa lo tadi yang paling lama sampai dirumah Lita, huh?" tambah Vivi. Shit! Vivi benar-benar ya. Yah, Venus tak bisa menyalahkan Vivi karena ia tak tahu apa-apa.
"Gak ada apa-apa. Dia cuma bikin gue kesel sepanjang jalan." cueknya. Ia melirik Lita yang sibuk sendiri.
"Ingat, di kebanyakan FTV, orang yang sering saling ejek malah berakhir saling jatuh cinta lho, Ve. Yah, dia emang suka sama Ifa tapi, nobody know what's gonna happend, kan?"
'Please Vi, jangan dilanjutin' batin Venus berteriak.
"Shut up, Vi. Lo sendiri tau kalau kehidupan gue itu bukan FTV."
"Kalian kapan mau tidur? Gue mau bersihin muka dulu. Ada yang mau ikut?" Tawar Lita. Ia bergegas mengambil sabun mukanya diikuti kedua temannya.
"Of course" jawab keduanya.
'Mati mati mati. Mati aku.' batin Venus.
Mereka telah selesai membereskan pakaian dan membersihkan diri. Keduanya berdoa untuk kelancaran acara besok dan pergi tidur.
.
.
.
[Hari H]
Jam 4 pagi, Venus, Lita, dan Vivi sudah tiba dikampus dengan beberapa makanan dan minuman pesanan Tama cs semalam.
"Tuh kan bener masih pada tidur." Keluh Lita.
"Tama, bangun dong nih makan dulu nasi uduknya."
Hal yang sama dilakukan oleh Vivi yang sedang membangunkan Amri. Kenapa para laki-laki kalau sudah tidur susah sekali dibangunkan?
"Mars kemana? Gue cari dia dulu ya." gadis mungil -Venus- meninggalkan kedua pasangan itu dan berjalan ke ruang sembako.
"Ruangan sembako kok gak dikunci?" Gumam Venus. Inner-nya mulai berdebat antara masuk atau tidak.
"Masuk aja deh."
Dari ambang pintu, Venus bisa melihat Mars yang sedang tidur meringkuk. "Mars, kenapa lo tidur disini?"
"......" Venus menghela nafas pelan.
"Mars, bangun.. makan dulu nih." Venus menepuk-nepuk kepala Mars.
"Mars.. kebo banget sih lo." Kali ini tepukkannya turun ke pipi. Ia bahkan sudah berani mencubit-cubit gemas pipi Mars.
Mars hanya bergerak acuh dan tidur dipangkuan Venus sambil bergumam asal.
"Ihh kok malah pindah spot sih? Bangun woy bangun"
"Hm.." Mars masih bergerak mencari posisi nyamannya.
"Jangan hm aja Mars udah pagi nih." Venus menghela nafas berat. Dia harus menggunakan jurus terbaiknya. Laki-laki ini memang miri kerbau.
Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Mars dan mulai berbisik.
"Mars.." bisiknya dengan suara pelan. Tangan nya masih setia menepuk kepala laki-laki manja itu.
Mars menengok dan menatap mata Venus. Untuk sesaat keduanya hanya bisa membeku. Tangan Mars terulur untuk mengelus tengkuk Venus.
"Pagi-pagi gini mau bangunin macan tidur hm?" Bisik Mars. "Lo emang mau diserang, Venus?"
"Gak kok. Gue cuma nyuruh lo bangun. Baangguuunnnn" teriak Venus sambil mencubit pipi Mars.
"Berisik, Ve. Biasa aja kali banguninnya." Omel Mars. Ia bangkit dari pangkuan Venus.
"Bodo amat lah. Tuh makan dulu." Venus yang ngambek pun beranjak pergi dan ditahan oleh Mars.
"Mau kemana?"
"Ke ruang sebelah lah"
"Disini aja makannya. Temenin gue." Pinta Mars. Venus melepas genggamannya.
"Alay" akhirnya mereka pun makan berdua.
Jam 5 semua panitia sudah tiba dikampus. Mereka mulai mengecek kembali kelengkapan untuk acara 2 hari ini.
"Guys, nih ambil roti nya. Satu aja ngambilnya. Ini buat sarapan kita." Sari dan Dito datang dengan satu dus berisi roti dan air minum kemasan.
"Gak dimakan? Kita bakal dapet makan jam 1 siang nanti lho, Ve." Tanya Rifky.
"Gak mood gue mau makan beginian. Tadi juga udah makan kok. Buat lo aja."
"Serius? Yaudah thanks cantik." Venus memutar bola mata malas ketika Rifky mengedipkan sebelah matanya sambil berterima kasih.
.
.
.
Satu per satu peserta Ospek mulai berdatangan. Petugas keamanan langsung mengarahkan mereka untuk tertib memasuki aula kampus.
Di belakang panggung terlihat Venus dan Rifky yang sedang mengobrol santai. Mars dan Vivi pun bergabung.
"Persiapan udah semua?" Tanya Venus.
"Udah kok." Jawab Vivi. Mereka berkumpul di gedung auditorium.
Para peserta sudah banyak yang hadir dan menduduki kursi masing-masing. Rektor, eksekutif dosen, dan dewan Senat pun sudah hadir.
"Peserta Ospek tahun ini banyak yang bening-bening coy." Seru Tanto
"Apa semua cowok selalu ngebahas yang bening-bening ya setiap ada anak baru?" Tanya Alifa yang baru saja bergabung.
"Apa semua cewek selalu ngebahas cowok-cowok ganteng ya setiap ada mahasiswa baru?" Balas Rifky
"Ini gak penting banget sumpah. Mending balik ke posisi masing-masing" sungut Vivi.
"Mars, kerah baju lo benerin dulu. Dasi juga berantakan banget." Tanpa sadar Mars mendekat dan Venus spontan membenarkan letak dasi dan kerah Varel.
Sungguh pemandangan manis yang cukup langka mengingat mereka tak pernah melihat kedekatan mereka berdua secara intim ditambah riwayat Mars yang menyukai Alifa. Mereka hanya tahu bahwa kedua pasangan dengan nama yang sama seperti planet itu adalah teman yang saling ejek.
"Calon istri kayaknya nih." Celetuk Imam
.
.
.
"Saya Mars, Neymars Feno Adrian selaku Presiden Mahasiswa mengucapkan selamat datang dan selamat bergabung di keluarga besar Universitas Garuda." Suara riuh tepuk tangan mengiringi kepergian Varel turun dari podium menuju backstage. Beberapa anggota Senat menyambut.
"Beneran namanya Mars?"
"Ganteng ya. Namanya juga unik."
"Namanya kerasa asing di lidah."
Yah, kira-kira begitulah kesan mahasiswa baru mengenai presiden mahasiswa mereka. Nama yang unik ditambah paras yang menawan.
"As always guys, pencitraan." Ledek Fahmi.
"Gak ada yang tau aslinya Presma gimana kan?"
"Bujang haus kasih sayang"
"Pedofil pula. Sukanya sama bocah kayak Venus."
Venus yang merasa disebut langsung melotot "Kenapa nama gue dibawa-bawa?"
Fahmi tersenyum "Lo yang paling bocah disini."
"Sialan lo padaan" balas Mars dengan aksen jawanya.
"Udah yuk sebentar lagi kita pengenalan Senat." Lerai Alifa.
.
.
"Dan yang terakhir Kholil dari menteri agama. Ini adalah nama-nama anggota Senat yang mengisi kursi di kabinet Maju untuk Perubahan. Sekian dari saya. Terima kasih."
Anggota Senat langsung menuju backstage dan bergegas menuju posisinya masih-masing untuk melanjutkan acara lain.
Acara masih berlanjut. Berbagai kegiatan sudah dilaksanakan di hari pertama.
"Kak Venus aku sudah selesai." seorang gadis berperawakan tinggi agak berisi menghampiri Venus.
"Tumpuk disana dan langsung istirahat." Ucap Venus singkat. Wajah sang junior sedikit merengut mendapat respon singkat.
Mars memperhatikan dari jauh sambil tersenyum maklum dan berjalan menghampiri rekannya yang terkenal cuek itu.
"Yang ramah dong. Jutek banget."
"Gue bukan lo yang lagi tebar pesona." Jawab Venus pedas.
Mars menepuk kepala Venus dan berlalu pergi. Venus melirik Mars yang semakin menjauh 'Dasar alay' batin nya.
"Semuanya kalau sudah selesai langsung istirahat. Luruskan kaki kalian." Ucap Lena tegas.
Venus itu cantik, berkulit putih, berpipi chubby dan terkesan imut karena wajahnya yang baby face tapi sifatnya yang cuek membuat beberapa enggan mendekat meskipun beberapa berpendapat itu terkesan 'menantang' dan tak jarang banyak yang tertantang untuk mencoba menggodanya.
"Kita nanti pensi dimana kak?"
"Di gedung teater. Persiapan kalian gimana?"
"Siap kak. Yang penting kakak harus nonton."
"Pasti. Saya kan mentor kalian. Jangan mikirin menang atau kalah, yang penting lakukan semaksimal mungkin."
"Ayayay kapten" Venus tersenyum tipis yang menambah kesan manis dan cantik diwajahnya. Semua ikut tersenyum melihatnya. Bahkan dari kelompok lain pun berpendapat sama.
"Kakak cantik kalau senyum begini" ucap salah satu cewek dikelompoknya.
"Kamu juga. Lanjutkan istirahat kalian ya." Venus beranjak pergi untuk mengurus yang lainnya.
Venus memasuki ruang Senat dengan wajah lelah. Vivi menghampirinya dan memberikan sebotol air minum.
"Lo udah berusaha semaksimal mungkin, Ve." Hiburnya
"Emang gue jutek ya?" Tanyanya yang mendadak ingat kata-kata Mars dan sang adik kelas.
"Pertama kali gue kenal sama lo emang kayak gitu kok" ucap Widya.
"Wajah lo yang jarang senyum yang bikin first impression mereka kayak gitu ke lo. Dari awal wajah lo begini nih. Flat." Jawab Cintya sambil menirukan wajah Venus yang sedang serius.
"Perubahan wajah dan mood lo juga nanggung sih. Kadang biasa aja, nanti 5 menit kemudian ramah, trus 5 menit kemudian ganti mood lagi." Balas Farah.
"Kenapa pada nyerbu gue sih?!" Sungut Lena.
"Ada yang bilang lo jutek ya?" Tanya Putri
Seketika wajah Mars yang berkata ia jutek tadi terlintas di fikirannya "Banyak. Hahh.. gue mau istirahat sebentar ya. Lagi pada istirahat juga anak-anak." Venus merebahkan tubuhnya sambil memandang langit-langit ruangan.
30 menit berlalu. Venus baru saja turun untuk kembali mengontrol acara. Tak lama rombongan Vina datang sambil membawa dus makanan.
"Konsumsi dataaang.." serunya.
"Akhirnya setelah sekian lama." Desah Widya.
"Yang disini makan dulu nanti biar langsung rolling sama yang lain."
"Vivi, Widya, sama yang lain nih ambil satu. Kalo bisa cepet ya soalnya biar yang lain bisa gantian." Vina memberi dus makanan beserta air mineral.
.
.
.
"Udah makan belum?" Tanya Wawan yang melihat Venus.
"Belum. Duluan aja kalo mau makan"
"Lo aja duluan biar gue yang jaga sini. Masih pada seminar kan?"
"Mending lo urus gedung teater sana daripada debat sama gue. 30 menit lagi kita pensi."
"Dasar batu. Yaudah gue kesana. Nanti susul ya." Wawan meninggalkan Venus setelah ia mengangguk tanda mengerti.
"Ve, gak makan? Box makan siang udah dateng tuh." Rifky menghampiri Venus yang sedang duduk.
"Duluan aja, tanggung."
"Yakin? Magh lo gak kambuh?"
"I'm fine, okay?"
"Dasar batu. Setelah ini langsung ke markas ya."
Venus mengangguk sambil menatap kepergian Rifky. 'Ada apa dengan orang-orang hari ini?'
Selang 10 menit, Venus melihat Mars berjalan mendekatinya. 'Sekarang apa lagi ini?'
"Udah makan?" Gotcha!
"Ada apa sama kalian hari ini? Lo orang ketiga yang nanya pertanyaan yang sama. Lo duluan aja." Jawab Venus.
Mars tersenyum "Dan jawaban lo sama semua?"
"Uh'huh.."
"Tama! Kesini sebentar"
Sosok Tama berjalan mendekat "Kenapa?"
"Tolong handle tugas Ve dulu. Dan lo Ve ikut gue ke ruang Senat. Cuma lo yang belum makan."
"Kalian berdua yang belum makan. Venus, makan siang dulu. Nanti lanjut lagi. Sekalian Presma lo juga belum makan." Titah Tama. Venus mendengus pelan.
"Nyuruh orang makan, lo sendiri belum makan."
"Laki-laki selalu punya tenaga lebih besar dari perempuan." Setelahnya mereka kembali ke ruang Senat.
.
.
Mars dan Venus berjalan memasuki gedung teater. Beberapa mahasiswa tampak memperhatikan. Venus berjalan kearah lain dan mendekat kearah kelompoknya.
Venus merupakan salah satu mentor dan sudah kewajibannya untuk mengontrol bawahannya. Kelompok dibuat untuk pensi hari pertama.
"Udah makan semua kan?" Tanya Venus.
"Udah kak. Kakak sendiri?" Mahasiswi ber-nametag Sisi menjawab sekaligus bertanya kembali.
"Barusan selesai."
"Habis makan sama Presiden ya kak?" Goda Dandi yang merupakan teman SMP nya.
"Ciyee.." ledek satu kelompok
"Ngaco kalian. Persiapan gimana? Jangan demam panggung ya."
"Siap!!" Seru semuanya. Venus tersenyum tipis. "Saya harus kembali ke backstage. Nanti mendekati giliran kalian, saya kesini lagi."
Acara berlanjut dan selesai jam 5 sore. Anggota Senat baru saja selesai membersihkan sampah yang berserakan. Satu per satu memasuki ruang Senat.
Mars merebahkan tubuhnya sambil menutup mata. Sesekali indera pendengarannya memperhatikan obrolan Alifa dan yang lain. Ia sedikit tersenyum mendengar suaranya.
Tak lama Venus masuk dan segera berbaring disamping Mars. Tak ada percakapan diantara mereka hingga 30 menit kedepan. Lebih tepatnya keduanya terlalu lelah hanya untuk mengeluarkan suara.
"Woy Mars, itu sembako belum di paketin lho. Mau kapan?" Tanya Dion.
"Nanti malam. Istirahat dulu sekalian delivery makanan sana."
"Uangnya ambil di keuangan ya. Bendahara gak megang" suruh Widya selaku Bendahara.
"Lagian kenapa gak nerima tawaran cathering dari kampus aja sih? Biar konsumsi panitia mereka yang siapin" tanya Imam.
"Enakan begini. Makanan kita yang pilih yang penting gak lewatin budget" sahut Vivi.
"Biar gue yang pesan sekalian mau keluar sebentar." Tama menawarkan diri.
Venus membuka mata "Lo mau keluar kan? Gue nitip susu beruang."
"Si Ve susu mulu." Seru Ayu. Tama membenarkan dengan nada setengah meledek
"Tolong" ucap Venus lirih. Mars yang mendengarnya sedikit melirik kearahnya
"Gampang, nanti gue beliin. Woy Lit, ikut yuk."
"Ayo, ada lagi yang mau nitip?" Semua menggeleng pelan. Kedua pasangan itupun pergi.
.
.
"Itu obat masuk angin buat siapa?" Tanya Lita. Mereka sedang ada di meja kasir.
"Buat si bocah."
"Tau dari mana kalo dia sakit?"
"Buat jaga-jaga aja."
Lita memandang Tama yang sedang berjalan kearah kasir. Ia segera menyusul kekasihnya.
Tama dan Lita sampai di ruang Senat. Yang lain sedang mengobrol dan ada juga yang bermain game. Ia bisa melihat posisi Venus dan Mars yang tidak berubah hanya saja Venus kini sedang memperhatikan game yang sedang dimainkan laki-laki disampingnya. Biasalah, Class of Clans.
"Heh bocah. Nih pesanan lo." Venus menerima botol susu beruangnya beserta obat masuk angin. Keningnya mengernyit.
"Gue gak merasa mesan obat masuk angin deh." Tanya Venus.
"Pegang aja buat jaga-jaga." Venus melirik Lita yang terlihat acuh dan sibuk dengan kegiatannya.
'Semoga gak jadi bumerang buat hubungan gue sama Lita' batin Venus.
Tama dan Venus memang dekat. Itupun karena Tama menganggapnya sebagai adik perempuannya. Tapi terkadang sifat Lita yang memang cemburuan sering menjadi tekanan tersendiri untuk Venus. Ia takut Lita mengira yang tidak-tidak tentang kedekatan mereka.
Venus masih memperhatikan Mars yang asyik bermain game. Sesekali ia menyoraki laki-laki berparas tampan itu dengan pelan.
"Kenapa? Malah nyorakin." Mars bergumam bertanya kepada Venus.
"......."
Merasa diabaikan, Mars mem-pause game tersebut dan memandang tepat di bola mata Venus
Mars tersenyum menggoda. Dan Venus menantangnya dengan mendekatkan wajahnya perlahan, dan..
Tukk
Ia menjedotkan kepala mereka pelan dan segera membuang muka. Matanya terpejam dengan tenang.
"Dasar" Mars mengelus singkat rambut Venus dan kembali bermain game.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat interaksi rahasia mereka dengan pandangan yang sedikit.. entahlah!
Makanan datang 20 menit setelahnya. Para anggota Senat yang kelaparan langsung menyerbu makanan yang ada.
"Widih.. menunya ayam semua." Seru Dean.
"Itu puding vanila buat gue."
"Oi box makanan gue kenapa disana? Oper kesini"
"Sambel gue mana? Rifky! Itu punya gue"
"Itu es teh gue coba tolong oper kesini"
"Sedotan gue kemana dah?"
"Tanto! Itu dessert gue jangan diambil"
"Coba geser dong duduknya"
"Berisik deh, gue mau mojok aja lah"
"Jangan ambil porsi gue woy!"
"Itu susu punya gue"
Kira-kira begitulah suasana rusuh malam itu diruang Senat sebelum semuanya pulang. Mereka harus istirahat karena besok adalah hari yang melelahkan.
#AuthorNote
Hai, salam kenal semua.. cerita ini sebenarnya udah sempat publish dengan nama cast yang berbeda dan beberapa perombakan. Entah deh bakal ada yang mau baca apa gak karena saya menulis cuma untuk menyalurkan hobi. Yah, syukur-syukur kalo ada apresiasinya. So, mohon vote, comment, and share nya yaaaa..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Us @soratemplates