Title : Kita Pulang
The Motel
Chap 8
Genre : Horror, romance,
friendship, dan sisanya tentukan sendiri ya !
Rate : T
Cast : Sasuke, Sakura,
Naruto, Ino, Sai, Temari
Cast lain menyusul . . . .
Pair : Sasusaku, SaIno
Warning : AU, OOC, abal,
ngebingungin, gaje, Typo(s), jelek, alur pasaran, dll
Summary :: Shhh ! kamu harus
cepat-cepat pergi dari sini . . . !
Ia tersadar dari tidur nya
sambil memegangi kepalanya yang terasa berat. Ia mencoba mengingat apa yang
telah terjadi. "jangan berisik . nanti mereka dengar" "mereka? Mereka
siapa?" "ada rahasia dalam rumah ini" "maksudnya? Saya
benar-benar tidak mengerti" "dengar, disini terlalu berbahaya.
Sebaiknya kalian harus cepat pergi dari sini". Aargghh ... andai saja kami
tak terjebak disini . . . [Bad Summary]
.
.
~DON'T LIKE, DON'T READ~
~NO BASHING, NO FLAME~
~AND DON'T COPY THIS FF WITHOUT MY PERMISSION~
~NO BASHING, NO FLAME~
~AND DON'T COPY THIS FF WITHOUT MY PERMISSION~
Previous Chap
.
.
Happy Reading~
.
.
*_**The Motel**_*
[Prev Chap]
Disisi lain, Sasuke yang kembali dari
kamar Naruto mendadak panik mengetahui Sakura sudah tidak ada disana. Bercak
darah di rumput tempat dimana Sakura berada tadi semakin membuatnya kalut.
Pemuda raven tersebut menjambak rambutnya frustasi sambil berteriak. Itachi
yang mendengar teriakan adiknya segera menghampiri.“Sasuke! Kau kenapa? Dan.. dimana Sakura?” Tanya Itachi. Sasuke jatuh terduduk sambil menunduk dalam-dalam.
“A-aku.. tak tau”
.
.
Happy Reading..
.
.
Sakura membuka matanya
dan terkejut mendapati dirinya dalam keadaan terikat di kursi dengan mulut
tersumpal kain.
“Sudah sadar, nona
pinky?” suara Orochimaru mengangetkannya. Sakura beringsut ketakuran.
“Jangan takut. Sebelum
kau mati menyusul teman-temanmu, aku akan memberimu sedikit rahasia. Yah,
setidaknya kau mati tanpa rasa penasaran sedikitpun kan?” Orochimaru menyeringai sambil mengelus pelan pipi Sakura.
Sakura memundurkan
wajahnya ketika tangan dingin Orochimaru menyentuh permukaan kulitnya. Di
hadapannya, Orochimaru masih setia menunggu respon Sakura. Dengan perlahan
gadis bersurai pink itu mengangguk lemah.
“Okay swetty. Tapi
tolong jangan menangis karena aku paling tidak kuat melihat orang menangis
apalagi wanita. Kau tau? Tangisanmu mengingatkanku pada mendiang istriku. Dia
menangis dan memohon agar aku tidak membunuhnya” Orochimaru mendesah pelan.
“Padahal dia tau,
bagaimana bisa aku membunuh orang yang sangat ku cintai? Kau pasti berfikiran
begitu kan? Tapi kalau bukan karena
okaa-san yang meminta ku untuk… Haaaa!!!”
Sakura semakin
ketakutan melihat Orochimaru mengamuk dan menghancurkan barang-barang di kamar.
Setelah kemarahannya mereda, Orochimaru mengeluarkan sapu tangan dan menghapus
air mata Sakura.
“Kau harus tau bahwa
aku bukan orang jahat. Bahkan, aku adalah malaikat penolong bagi sebagian
orang. Aku mengambil organ dalam orang mati hanya demi menyelamatkan mereka
yang sedang sekarat. Aku baik kan?
Aku tidak pernah membunuh kecuali untuk alasan yang jelas. Bahkan, aku selalu
mendoakan orang-orang yang telah ku bunuh, terutama istriku…”
Wajah sendu Orochimaru
pun muncul, ia mulai terisak pelan. Disaat seperti itu, Sakura mulai mencari
cara untuk melarikan diri.
“Ku akui, ada iblis di
dalam diriku. Iblis itu mengalir dalam darahku. Tapi percayalah, itu bukan aku.
Bukan aku!!” Orochimaru kembali meradang. Sakura tersentak kaget.
“Okaa-san adalah iblis
yang sebenarnya. Dialah yang memaksa ku membunuh istriku sendiri” Orochimari
makin terisak. Air mata yang mengalir telah tercampur oleh amarah yang telah
lama ia pendam. Seketika Orochimaru menatap tajam ke arah Sakura. Dengan
gerakan cepat, ia melepas plester di mulut Sakura.
“Kau harus membunuhku.”
Mata Sakura terbelalak kaget ‘Apa dia
gila? Dia tidak serius kan?’ inner Sakura.
“A-apa kau yakin?” Ucap
Sakura terbata. Ia benar-benar tak mengerti jalan fikiran orang di hadapannya
ini. Padahal tadi dia ingin sekali membunuhnya.
“Ya, kau harus membunuhku.
Sekarang! Sekarang adalah waktu yang tepat. Kau takkan tau seberapa besar
keinginanku untuk menyusul istriku. Lagipula Karin juga pasti sudah pergi
meninggalkanku.” Orochimaru membuka ikatan di tubuh Sakura dan memberinya
sebuah diary.
“Simpan ini dan jaga
baik-baik. Aku percaya kau mau melakukannya untukku. Janji, kau pasti bisa!”
Orochimaru tersenyum sesaat. Sakura terpaksa mengangguk menyetujui.
“Ayo, tembak! Cepat!”
Sakura hanya bisa menangis dengan tangan yang gemetaran
Orochimaru mengangguk
meyakinkan Sakura. “Kau bisa. Kau hanya perlu menarik pelatuknya dan semua
selesai.”
Setelah beberapa detik
yang menegangkan, akhirnya Sakura menurunkan pistol dari kening Orochimaru.
Dengan senyum penuh kemenangan, Orochimaru mengambil pistol dari tangan Sakura.
“Sekarang giliranku.”
Orochimaru mengarahkan pistolnya tepat di kepala Sakura. Pada saat yang
bersamaan, Itachi mendobrak pintu tersebut. Sasuke masuk dengan sikap siaga.
BRAKK!!
“Cukup!! Lepaskan
pistol itu” pinta Itachi dengan hati-hati. “Semua telah berakhir.”
Orochimaru menyeringai.
“Tidak semuanya” dia berbalik dengan cepat dan tiba-tiba terdengar suara
tembakan. Orochimaru terkapar dengan darah menggenang di lantai. Sai memastikan
kalau Orochimaru telah meninggal.
Sasuke berlari ke arah
Sakura dan memeluknya dengan erat. Air mata mengalir deras dari pipi Sakura.
“Hiks.. Sasuke-kun syukurlah kalian selamat”
Dengan langkah gontai
Itachi, Sai, Sasuke, dan Sakura turun dari lantai atas. Mereka bertemu Naruto
dan Ino di pintu luar motel.
“Kita pulang?” Semuanya
tersenyum lega mendengar tawaran Itachi. Semuanya telah berakhir fikir mereka
meskipun hati mereka cukup sakit mengingat beberapa sahabatnya tidak bisa
pulang bersama mereka.
Di luar, mereka
mendapati Deidara yang kini sudah siuman dan merasa kesakitan di sekujur
tubuhnya akibat patah tulang.
Di sisi motel, saat
matahari mulai menghangatkan bumi dari ufuk timur, gerombolan kelelawar
beterbangan masuk ke dalam tempat peristirahatakn mereka di kamar 13. Sementara
di kamar 20, seseorang seolah baru bangkit dari kubur. Dia tersenyum seram.
Dia, Orochimaru bangkit.
.
.
.
TIGA BULAN KEMUDIAN
Berita seputar
kelelawar vampire menjadi headline di
sejumlah media cetak. Mereka menyoroti keberadaan kelelawar itu dari sudut
pandang yang berbeda. Ada yang mengangkatnya dengan nuansa mistis dan magis.
Tapi banyak pula yang mencoba objektif dengan menyampaikan fakta yang
sebenarnya.
Seorang gadis berambut
pink terlihat tengah berdiri di depan pintu sebuah rumah (jika tidak mau di
sebut istana) bergaya eropa klasik bercambur tradisional jepang.
“Ah~ Sakura-chan?
Mencari Sasuke? Masuk saja, dia ada di kamar.” Itachi menyapa dengan ramah gadis
– ehem calon adik ipar nya.
“Ha’i Itachi-nii,
Arigatou.. “ dengan sopan, Sakura berjalan naik ke lantai dua menuju kamar
seseorang yang kini telah resmi menjadi kekasihnya.
TOK
TOK
Tok
“Sasuke-kun? Kau di
dalam?” hening. Tak ada jawaban dari sang empu.
2 menit kemudian
“Aku masuk ya..” dengan
pelan, Sakura membuka pintu kamar Sasuke. Aroma maskulin khas Sasuke langsung
tercium di indera penciuman Sakura dan itu sukses membuat wajahnya memerah.
Sakura menutup pintu
kamarnya dengan pelan. Ia duduk di tepi ranjang Sasuke dan sesekali ia
mendengar suara percikan air dari kamar mandi. ‘Pantas tadi tidak ada jawaban. Ternyata dia sedang mandi. Hah~
nyamannya di kamar Sasuke-kun. Kamarnya juga rapih untuk ukuran pria.’
KRIET..
Suara pintu terbuka
dari arah kamar mandi. Sakura masih tidak sadar dan asik menutup mata menikmati
angina dari AC dan aroma maskulin kekasihnya. Di sudut lain, Sasuke yang
melihat Sakura di kamarnya mendadak menaikkan alisnya bingung
‘Ada angin apa anak ini datang ke kamarku? Hn, aksi
penyerahan diri ke kandang singa eh?’
oke mesum sekali pemikiranmu itu Uchiha.
Sasuke memeluk Sakura
dari belakang dengan dagu bertumpu di pundak gadis itu. Wajah Sakura memerah
ketika mengetahui kulit halus tanpa helai benang itu menyentuh punggungnya.
Ya.. Sasuke bertelanjang dada dan kini mendekapnya. Oke, garis bawahi ya.
Mendekapnya dan ini di kamarnya. Oh Sakura kau bodoh sekali masuk ke kandang
binatang buas sendirian.
“Etto.. S-sasuke-kun
a-ano.. kau harus pakai baju nanti kedinginan.” Gugupnya
“Hn, begini saja sudah
hangat Saki.” Sasuke semakin merapatkan tubuhnya yang dingin dan memeluknya
dari depan. Ia mendorongnya perlahan ke tengah ranjang tanpa melepaskan
pelukannya. Sakura? Oh dia hanya bisa pasrah menerima perlakuan – ehem
menggairahkan – dari kekasihnya.
“Sakura?” panggil
Sasuke dengan suaranya yang dalam. ‘Shannaroooo!!!
Suaranya terdengar begitu… kyaaaa!!!’ inner Sakura.
Sakura memandang Sasuke
dengan tatapan teduhnya. Sasuke mendekarkan wajahnya seraya mengelus pipi halus
gadis di hadapannya.
“Apa kau masih
memimpikan kejadian kita di motel itu?” khawatir? Jelas. Sejak tiba di rumah,
Sakura sering bermimpi tentang kejadian di motel setiap malam hingga Sasuke
sampai harus menginap dan tidur di kamar Sakura demi menenangkannya. Bagaimana
Sasuke mendapat izin dari kedua orang tua Sakura? Itu mudah. Sasuke sudah
sangat di percaya oleh Kizashi dan Mebuki. Lagipula selama ini ia tidak pernah
menyentuh Sakura lebih dari ciuman.
“Tidak, karena
Sasuke-kun selalu ada di sampingku kan?”
Sakura mengecup lembut bibir Sasuke. Pria di hadapannya inilah yang selalu
memeluknya di tengah malam ketiak ia bermimpi buruk. Pria yang begitu dicintainya.
“Hn, baguslah”
CUP
Sasuke mengecup lembut
bibir mungil Sakura. Melumatnya pelan sambil membaringkan tubuh kecil Sakura di
ranjangnya. Sasuke tidak akan lepas kendali karena ia hanya akan menyentuhnya
saat ia resmi menjadi suami Sakura. Untuk sekarang.. biarkan ia menikmati
manisnya bibir mungil gadis yang ia cintai ini.
Kedua nya saling
menutup mata. Melupakan sejenak trauma akan mimpi buruk yang baru saja mereka
alami 3 bulan lalu. Untuk mereka yang sudah pergi lebih dulu, semoga mereka bahagia.
‘Minna.. berbahagialah kalian. Jaga kami dari sana.’
Inner Sakura.
“Aishiteru… Sakura
Uchiha” ucap Sasuke membuat acara ciuman mereka berhenti. Sasuke mengangkat
jari manis Sakura yang kini tersemat cincin emas yang indah. Sakura menahan air
mata haru nya.
“Boku mo Sasuke-kun,
Aishiteru mo Uchiha Sasuke-kun” kedua bibir itu kembali menyatu. Mengecap rasa
manis yang tercipta dengan tangan yang saling bertaut.
.
.
Siklus kehidupan memang
seperti itu. Semua yang hidup pasti akan mati. Untuk itu, selagi bisa
nikmatilah kebersamaanmu dengan semua orang yang kau sayang sebelum kalian
terpisah oleh maut yang selalu datang tanpa bisa di cegah.
.
.
.
FIN
Selesaaaiii!!!
Endingnya biasa kan? Oke sip -_- saya emang belum bisa bikin fic yang sweet
banget. Tapi aku akan tetap belajar menjadi penulis yang baik. Oyaa!! Big
thanks buat yang udah riview dari chapter awal sampe ending.
Promosi dikit boleh?
Setelah ini rencananya saya akan memunculkan fic baru dengan judul ‘Karena kami
bersaudara’ dengan pair tetap SASUSAKU. Tapi nanti aka nada OC nya salah satu
chara dari anime lain. Ini true story saya dengan sedikit fiksi di dalamnya.
Yosh!! Sampai jumpa di
fic depan yang entah kapan di publish nya :D hehehe
-Uchiha Ouka-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar