Sabtu, 05 September 2015

# Anime # Fanfiction

[Sasusaku] The Motel - Chapter 8 END



Title : Kita Pulang
The Motel
Chap 8
Genre : Horror, romance, friendship, dan sisanya tentukan sendiri ya !
Rate : T
Cast : Sasuke, Sakura, Naruto, Ino, Sai, Temari
Cast lain menyusul . . . .
Pair : Sasusaku, SaIno
Warning : AU, OOC, abal, ngebingungin, gaje, Typo(s), jelek, alur pasaran, dll
Summary :: Shhh ! kamu harus cepat-cepat pergi dari sini . . . !
Ia tersadar dari tidur nya sambil memegangi kepalanya yang terasa berat. Ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi. "jangan berisik . nanti mereka dengar" "mereka? Mereka siapa?" "ada rahasia dalam rumah ini" "maksudnya? Saya benar-benar tidak mengerti" "dengar, disini terlalu berbahaya. Sebaiknya kalian harus cepat pergi dari sini". Aargghh ... andai saja kami tak terjebak disini . . . [Bad Summary]
.
.
~DON'T LIKE, DON'T READ~
~NO BASHING, NO FLAME~
~AND DON'T COPY THIS FF WITHOUT MY PERMISSION~

Previous Chap
.
.
Happy Reading~
.
.
*_**The Motel**_*

[Prev Chap]
Disisi lain, Sasuke yang kembali dari kamar Naruto mendadak panik mengetahui Sakura sudah tidak ada disana. Bercak darah di rumput tempat dimana Sakura berada tadi semakin membuatnya kalut. Pemuda raven tersebut menjambak rambutnya frustasi sambil berteriak. Itachi yang mendengar teriakan adiknya segera menghampiri.
“Sasuke! Kau kenapa? Dan.. dimana Sakura?” Tanya Itachi. Sasuke jatuh terduduk sambil menunduk dalam-dalam.
“A-aku.. tak tau”
.
.
Happy Reading..
.
.
Sakura membuka matanya dan terkejut mendapati dirinya dalam keadaan terikat di kursi dengan mulut tersumpal kain.
“Sudah sadar, nona pinky?” suara Orochimaru mengangetkannya. Sakura beringsut ketakuran.
“Jangan takut. Sebelum kau mati menyusul teman-temanmu, aku akan memberimu sedikit rahasia. Yah, setidaknya kau mati tanpa rasa penasaran sedikitpun kan?” Orochimaru menyeringai sambil mengelus pelan pipi Sakura.
Sakura memundurkan wajahnya ketika tangan dingin Orochimaru menyentuh permukaan kulitnya. Di hadapannya, Orochimaru masih setia menunggu respon Sakura. Dengan perlahan gadis bersurai pink itu mengangguk lemah.
“Okay swetty. Tapi tolong jangan menangis karena aku paling tidak kuat melihat orang menangis apalagi wanita. Kau tau? Tangisanmu mengingatkanku pada mendiang istriku. Dia menangis dan memohon agar aku tidak membunuhnya” Orochimaru mendesah pelan.
“Padahal dia tau, bagaimana bisa aku membunuh orang yang sangat ku cintai? Kau pasti berfikiran begitu kan? Tapi kalau bukan karena okaa-san yang meminta ku untuk… Haaaa!!!”
Sakura semakin ketakutan melihat Orochimaru mengamuk dan menghancurkan barang-barang di kamar. Setelah kemarahannya mereda, Orochimaru mengeluarkan sapu tangan dan menghapus air mata Sakura.
“Kau harus tau bahwa aku bukan orang jahat. Bahkan, aku adalah malaikat penolong bagi sebagian orang. Aku mengambil organ dalam orang mati hanya demi menyelamatkan mereka yang sedang sekarat. Aku baik kan? Aku tidak pernah membunuh kecuali untuk alasan yang jelas. Bahkan, aku selalu mendoakan orang-orang yang telah ku bunuh, terutama istriku…”
Wajah sendu Orochimaru pun muncul, ia mulai terisak pelan. Disaat seperti itu, Sakura mulai mencari cara untuk melarikan diri.
“Ku akui, ada iblis di dalam diriku. Iblis itu mengalir dalam darahku. Tapi percayalah, itu bukan aku. Bukan aku!!” Orochimaru kembali meradang. Sakura tersentak kaget.
“Okaa-san adalah iblis yang sebenarnya. Dialah yang memaksa ku membunuh istriku sendiri” Orochimari makin terisak. Air mata yang mengalir telah tercampur oleh amarah yang telah lama ia pendam. Seketika Orochimaru menatap tajam ke arah Sakura. Dengan gerakan cepat, ia melepas plester di mulut Sakura.
“Kau harus membunuhku.” Mata Sakura terbelalak kaget ‘Apa dia gila? Dia tidak serius kan?’ inner Sakura.
“A-apa kau yakin?” Ucap Sakura terbata. Ia benar-benar tak mengerti jalan fikiran orang di hadapannya ini. Padahal tadi dia ingin sekali membunuhnya.
“Ya, kau harus membunuhku. Sekarang! Sekarang adalah waktu yang tepat. Kau takkan tau seberapa besar keinginanku untuk menyusul istriku. Lagipula Karin juga pasti sudah pergi meninggalkanku.” Orochimaru membuka ikatan di tubuh Sakura dan memberinya sebuah diary.
“Simpan ini dan jaga baik-baik. Aku percaya kau mau melakukannya untukku. Janji, kau pasti bisa!” Orochimaru tersenyum sesaat. Sakura terpaksa mengangguk menyetujui.
“Ayo, tembak! Cepat!” Sakura hanya bisa menangis dengan tangan yang gemetaran
Orochimaru mengangguk meyakinkan Sakura. “Kau bisa. Kau hanya perlu menarik pelatuknya dan semua selesai.”
Setelah beberapa detik yang menegangkan, akhirnya Sakura menurunkan pistol dari kening Orochimaru. Dengan senyum penuh kemenangan, Orochimaru mengambil pistol dari tangan Sakura.
“Sekarang giliranku.” Orochimaru mengarahkan pistolnya tepat di kepala Sakura. Pada saat yang bersamaan, Itachi mendobrak pintu tersebut. Sasuke masuk dengan sikap siaga.
BRAKK!!
“Cukup!! Lepaskan pistol itu” pinta Itachi dengan hati-hati. “Semua telah berakhir.”
Orochimaru menyeringai. “Tidak semuanya” dia berbalik dengan cepat dan tiba-tiba terdengar suara tembakan. Orochimaru terkapar dengan darah menggenang di lantai. Sai memastikan kalau Orochimaru telah meninggal.
Sasuke berlari ke arah Sakura dan memeluknya dengan erat. Air mata mengalir deras dari pipi Sakura. “Hiks.. Sasuke-kun syukurlah kalian selamat”
Dengan langkah gontai Itachi, Sai, Sasuke, dan Sakura turun dari lantai atas. Mereka bertemu Naruto dan Ino di pintu luar motel.
“Kita pulang?” Semuanya tersenyum lega mendengar tawaran Itachi. Semuanya telah berakhir fikir mereka meskipun hati mereka cukup sakit mengingat beberapa sahabatnya tidak bisa pulang bersama mereka.
Di luar, mereka mendapati Deidara yang kini sudah siuman dan merasa kesakitan di sekujur tubuhnya akibat patah tulang.
Di sisi motel, saat matahari mulai menghangatkan bumi dari ufuk timur, gerombolan kelelawar beterbangan masuk ke dalam tempat peristirahatakn mereka di kamar 13. Sementara di kamar 20, seseorang seolah baru bangkit dari kubur. Dia tersenyum seram. Dia, Orochimaru bangkit.
.
.
.
TIGA BULAN KEMUDIAN
Berita seputar kelelawar vampire menjadi headline di sejumlah media cetak. Mereka menyoroti keberadaan kelelawar itu dari sudut pandang yang berbeda. Ada yang mengangkatnya dengan nuansa mistis dan magis. Tapi banyak pula yang mencoba objektif dengan menyampaikan fakta yang sebenarnya.
Seorang gadis berambut pink terlihat tengah berdiri di depan pintu sebuah rumah (jika tidak mau di sebut istana) bergaya eropa klasik bercambur tradisional jepang.
“Ah~ Sakura-chan? Mencari Sasuke? Masuk saja, dia ada di kamar.” Itachi menyapa dengan ramah gadis – ehem calon adik ipar nya.
“Ha’i Itachi-nii, Arigatou.. “ dengan sopan, Sakura berjalan naik ke lantai dua menuju kamar seseorang yang kini telah resmi menjadi kekasihnya.
TOK
TOK
Tok
“Sasuke-kun? Kau di dalam?” hening. Tak ada jawaban dari sang empu.
2 menit kemudian
“Aku masuk ya..” dengan pelan, Sakura membuka pintu kamar Sasuke. Aroma maskulin khas Sasuke langsung tercium di indera penciuman Sakura dan itu sukses membuat wajahnya memerah.
Sakura menutup pintu kamarnya dengan pelan. Ia duduk di tepi ranjang Sasuke dan sesekali ia mendengar suara percikan air dari kamar mandi. ‘Pantas tadi tidak ada jawaban. Ternyata dia sedang mandi. Hah~ nyamannya di kamar Sasuke-kun. Kamarnya juga rapih untuk ukuran pria.’
KRIET..
Suara pintu terbuka dari arah kamar mandi. Sakura masih tidak sadar dan asik menutup mata menikmati angina dari AC dan aroma maskulin kekasihnya. Di sudut lain, Sasuke yang melihat Sakura di kamarnya mendadak menaikkan alisnya bingung
‘Ada angin apa anak ini datang ke kamarku? Hn, aksi penyerahan diri ke kandang singa eh?’ oke mesum sekali pemikiranmu itu Uchiha.
Sasuke memeluk Sakura dari belakang dengan dagu bertumpu di pundak gadis itu. Wajah Sakura memerah ketika mengetahui kulit halus tanpa helai benang itu menyentuh punggungnya. Ya.. Sasuke bertelanjang dada dan kini mendekapnya. Oke, garis bawahi ya. Mendekapnya dan ini di kamarnya. Oh Sakura kau bodoh sekali masuk ke kandang binatang buas sendirian.
“Etto.. S-sasuke-kun a-ano.. kau harus pakai baju nanti kedinginan.” Gugupnya
“Hn, begini saja sudah hangat Saki.” Sasuke semakin merapatkan tubuhnya yang dingin dan memeluknya dari depan. Ia mendorongnya perlahan ke tengah ranjang tanpa melepaskan pelukannya. Sakura? Oh dia hanya bisa pasrah menerima perlakuan – ehem menggairahkan – dari kekasihnya.
“Sakura?” panggil Sasuke dengan suaranya yang dalam. ‘Shannaroooo!!! Suaranya terdengar begitu… kyaaaa!!!’ inner Sakura.
Sakura memandang Sasuke dengan tatapan teduhnya. Sasuke mendekarkan wajahnya seraya mengelus pipi halus gadis di hadapannya.
“Apa kau masih memimpikan kejadian kita di motel itu?” khawatir? Jelas. Sejak tiba di rumah, Sakura sering bermimpi tentang kejadian di motel setiap malam hingga Sasuke sampai harus menginap dan tidur di kamar Sakura demi menenangkannya. Bagaimana Sasuke mendapat izin dari kedua orang tua Sakura? Itu mudah. Sasuke sudah sangat di percaya oleh Kizashi dan Mebuki. Lagipula selama ini ia tidak pernah menyentuh Sakura lebih dari ciuman.
“Tidak, karena Sasuke-kun selalu ada di sampingku kan?” Sakura mengecup lembut bibir Sasuke. Pria di hadapannya inilah yang selalu memeluknya di tengah malam ketiak ia bermimpi buruk. Pria yang begitu dicintainya.
“Hn, baguslah”
CUP
Sasuke mengecup lembut bibir mungil Sakura. Melumatnya pelan sambil membaringkan tubuh kecil Sakura di ranjangnya. Sasuke tidak akan lepas kendali karena ia hanya akan menyentuhnya saat ia resmi menjadi suami Sakura. Untuk sekarang.. biarkan ia menikmati manisnya bibir mungil gadis yang ia cintai ini.
Kedua nya saling menutup mata. Melupakan sejenak trauma akan mimpi buruk yang baru saja mereka alami 3 bulan lalu. Untuk mereka yang sudah pergi lebih dulu, semoga mereka bahagia.
‘Minna.. berbahagialah kalian. Jaga kami dari sana.’ Inner Sakura.
“Aishiteru… Sakura Uchiha” ucap Sasuke membuat acara ciuman mereka berhenti. Sasuke mengangkat jari manis Sakura yang kini tersemat cincin emas yang indah. Sakura menahan air mata haru nya.
“Boku mo Sasuke-kun, Aishiteru mo Uchiha Sasuke-kun” kedua bibir itu kembali menyatu. Mengecap rasa manis yang tercipta dengan tangan yang saling bertaut.
.
.
Siklus kehidupan memang seperti itu. Semua yang hidup pasti akan mati. Untuk itu, selagi bisa nikmatilah kebersamaanmu dengan semua orang yang kau sayang sebelum kalian terpisah oleh maut yang selalu datang tanpa bisa di cegah.
.
.
.
FIN
Selesaaaiii!!! Endingnya biasa kan? Oke sip -_- saya emang belum bisa bikin fic yang sweet banget. Tapi aku akan tetap belajar menjadi penulis yang baik. Oyaa!! Big thanks buat yang udah riview dari chapter awal sampe ending.
Promosi dikit boleh? Setelah ini rencananya saya akan memunculkan fic baru dengan judul ‘Karena kami bersaudara’ dengan pair tetap SASUSAKU. Tapi nanti aka nada OC nya salah satu chara dari anime lain. Ini true story saya dengan sedikit fiksi di dalamnya.
Yosh!! Sampai jumpa di fic depan yang entah kapan di publish nya :D hehehe
-Uchiha Ouka-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Us @soratemplates